Baby - Justin Bieber (Chaewon Le Sserafim and Sunwoo The Boyz)

Kim Chaewon as Theodora Khandra Camellia

Love On The Competition

Christopher Bahng As Alvino Tian Rivendra - gitaaa

Showing posts with label giel. Show all posts
Showing posts with label giel. Show all posts

Monday, 25 March 2024

Tag, You're It.

 

Tag, you're it
-gitaaa

Terdapat 5 orang anak SMA yang bernama, Bangchan, Minho, Changbin, Hyunjin, dan Jake. Mereka adalah sahabat lama yang sangat akrab. Mereka berkumpul di halaman belakang sekolah mereka, sibuk memainkan permainan lama favorit mereka, tag. Mereka tertawa dan berlari-larian dengan riang, hingga tiba-tiba, Minho menemukan sebuah kotak kecil di balik semak-semak.

"Kamu kenapa, Minho?" tanya Changbin sambil menghampiri.

Jake membuka kotak itu dan menemukan sebuah surat undangan misterius. "Ini undangan untuk permainan," kata Jake, menunjukkan surat itu kepada teman-temannya.

Mereka semua berkumpul untuk membaca isi surat itu. Isinya meminta mereka untuk berpartisipasi dalam permainan yang tidak biasa. "Kita harus mencari tahu siapa pembunuh di antara kita," ujar Minho, membaca isi surat itu dengan cermat.

"Gimana cara kita tahu siapa yang jadi pembunuhnya?" tanya Hyunjin, bingung.

"Kita harus menyelesaikan puzzle-puzzle di dalam permainan ini," jawab Changbin sambil menunjuk beberapa kotak puzzle yang ada di surat tersebut.

Mereka mulai menjelajahi area yang tertera pada surat itu dan mereka meninggalkan spot belakang sekolah, mencari petunjuk pertama. Setiap puzzle yang mereka selesaikan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran, tetapi juga membuat mereka semakin waspada terhadap satu sama lain.

Bangchan, Minho, Changbin, Hyunjin, dan Jake duduk bersama di ruang kelas yang kosong, mengamati puzzle pertama yang terpampang di meja. Mereka saling berbagi ide dan mencoba memecahkan teka-teki tersebut.

Bangchan: "Apa yang kalian pikirkan tentang ini?"

Minho: "Mungkin kita perlu cocokkin pola-pola ini sama diagram di sebelah sana."

Changbin: "Tapi, apa hubungannya sama surat undangan itu? Apa ini hanya permainan atau ada yang lebih?"

Hyunjin: "Ayo, kita fokus sama puzzle ini dulu. Kita bisa membicarakan itu nanti."

Mereka bekerja keras, bergantian mencoba memecahkan teka-teki tersebut. Setelah beberapa saat, mereka berhasil menyelesaikan puzzle pertama dan mendapatkan petunjuk berikutnya.

Jake: "Ini membawa kita ke perpustakaan. Ayo cepat pergi!"

Mereka berlima bergegas ke perpustakaan, di mana mereka menemukan puzzle-puzzle lain yang menantang. Mereka bekerja sama dengan cepat dan hati-hati, menyadari bahwa waktu mereka terus berkurang.

Changbin: "Aku yakin ada yang ngawasin kita. Kita harus bergerak cepat."

Bangchan: "Aku setuju. Kita harus menyelesaikan ini sebelum terlambat."

Saat mereka sedang sibuk memecahkan puzzle terakhir, tiba-tiba lampu di sekitar mereka padam. Suara langkah kaki yang cepat terdengar mendekati mereka. Mereka berlima saling melihat, hati-hati mengintip kegelapan.

"Kita harus sembunyi!" bisik Minho sambil menarik tangan Bangchan. Mereka berlari dan menyelinap ke dalam ruangan gelap yang terbuka di sebelah koridor.

Setelah beberapa saat bersembunyi, tiba-tiba, cahaya lampu kembali menyala. Mereka keluar dari persembunyian mereka dan menemukan Changbin tergeletak di lantai secara mengenaskan. Mereka menegakkan tubuhnya, napasnya terengah-engah setelah sadar apa yang telah mereka lihat.

Setelah kejadian tersebut satu per satu, dari mereka mulai tersingkir. Satu di antara mereka selalu terjebak dalam puzzle yang sulit, hingga tak bisa melanjutkan. Dan satu di antara mereka tergeletak dilantai tak berkutik. Setiap kali seseorang tereliminasi, mereka mendengar suara berbisik di telinga mereka, "Tag, you're it."


 



Bangchan: "Apa ini? Kok ada ruang tersembunyi di sini?"

Minho: "Ini tempat persembunyian pembunuh. Kita harus hati-hati."

Mereka menjelajahi ruangan itu dengan hati-hati, mencari petunjuk terakhir. Tiba-tiba, lampu padam, dan mereka diserang oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Hyunjin: "Awas! Pembunuh itu di sini!"

Mereka berjuang untuk bertahan hidup, saling melindungi satu sama lain. Namun, ketika lampu kembali menyala, Bangchan menyadari bahwa seluruh temannya sudah terbunuh di sekitarnya kini, hanya dia dan Jake yang tersisa.

Bangchan: "Apa yang terjadi? Siapa pembunuhnya!"

Bangchan melihat Jake tersenyum dengan sinis, menggenggam sebuah pisau di tangan.

Jake: "Maafkan aku, Bangchan. Ini bagian dari permainan, selamat tinggal."

Bangchan terkejut, tidak percaya pada apa yang terjadi. Namun, sebelum ia bisa bereaksi, Jake menghilang, meninggalkannya di dalam ruangan yang gelap, sendirian.

Bangchan: "JAKE! APA APAAN INI, KELUARKAN AKU!"

Namun, ketika Bangchan mencoba keluar dari ruangan itu, pintu terkunci rapat dan suara misterius terdengar di belakang Bangchan.

Jake: "Tag, you're it, Bangchan."

Bangchan terdiam sejenak, merasakan keheningan yang menghantui di ruangan itu. Dia meraba-raba dinding, mencoba mencari cara untuk keluar. Namun, pintu tetap terkunci rapat.

Saat Bangchan berusaha mencari jalan keluar, dia merasakan sesuatu yang dingin dan tajam di lehernya. Jake muncul di hadapannya, wajahnya penuh dengan kekejaman yang belum pernah Bangchan lihat sebelumnya.

"Dengan ini, permainan berakhir," ucap Jake dengan dingin, lalu menusukkan pisau itu ke tubuh Bangchan.

Bangchan jatuh ke lantai dengan keputusasaan. Dia melihat ke langit-langit yang gelap, merasakan nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Dalam keadaan terakhirnya, dia berharap teman-temannya yang lain mendapat keadilan.

Namun, tak lama kemudian, suara misterius terdengar lagi, "Tag, you're it," dan Bangchan pun tahu bahwa permainan ini masih belum berakhir.

 

Bangchan merasa tubuhnya semakin lemah saat darah terus mengalir dari luka tusukan Jake. Meskipun demikian, dia mencoba untuk tetap sadar, mencari cara untuk bertahan hidup.

Dengan susah payah, Bangchan meraih sebatang pecahan kaca yang tergeletak di dekatnya. Dengan kekuatan terakhir yang dimilikinya, dia melompat ke arah Jake, mencoba untuk membalas serangan.

Namun, Jake terlalu cepat. Dengan gerakan yang lincah, dia menghindari serangan Bangchan dan menendangnya dengan keras ke dinding. Bangchan merasakan sakit yang menusuk seluruh tubuhnya, tetapi dia tidak menyerah begitu saja.

Dengan tekad yang membara, Bangchan mencoba berdiri lagi. Dia melihat ke sekeliling ruangan gelap itu, mencari peluang untuk melarikan diri. Namun, Jake terus mendekat, senyumnya yang keji membuat Bangchan semakin terdesak.

Saat Jake bersiap untuk serangan terakhirnya, tiba-tiba cahaya terang memenuhi ruangan itu. Suara langkah kaki polisi terdengar di koridor, menandakan kedatangan bantuan yang telah lama dinanti.

Jake melihat ke arah pintu masuk, kemudian kembali menatap Bangchan dengan tatapan dingin. "Kita akan bertemu lagi," bisiknya, sebelum melarikan diri ke dalam kegelapan.

Dengan bantuan polisi, Bangchan berhasil diselamatkan dari kematian yang nyaris saja menimpanya. Dia dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis yang mendesak.

Meskipun fisiknya terluka parah, Bangchan tahu bahwa permainan misterius itu masih belum berakhir. Dia bertekad untuk mencari keadilan untuk teman-temannya yang telah menjadi korban, dan mengungkap kebenaran di balik semua ini.

Apakah Bangchan bisa berhasil melaporkannya? Atau ia akan bernasib sama dengan temannya?


Who know's right?

Monday, 26 February 2024

Somebody Else Might Take Your Place.

 

Changbin as Lewis Clarence | Bangchan as Christopher Brixton
- gitaaa


Di bawah langit yang sama, dua hati berdegup dalam pertarungan abadi,
Lewis, dengan matanya yang penuh kegelisahan,
Dan Chris, dengan tekad yang menggebu-gebu dalam setiap langkahnya.

Mereka adalah cermin bagi satu sama lain, saling memantulkan kegigihan dan ketakutan,
Namun, takdir memintal benang merah yang tak terlihat,
Dan dalam keberhasilan yang diraih, mereka kehilangan diri sendiri.

Mereka adalah pelajaran hidup, cermin dari dunia yang tak pernah cukup,
Bahwa persaingan bukanlah ajang untuk saling mengalahkan,
Namun, panggung untuk saling menguatkan dan menginspirasi.

Kisah mereka, selembar kanvas yang tercipta dari lukisan pahit dan manis,
Sebuah cerita yang mengajarkan bahwa di antara ambisi dan persaingan,
Kita semua adalah manusia, rapuh namun penuh dengan potensi yang tak terbatas.



Di sebuah sekolah bergengsi di pinggiran kota, kisah persaingan antara Lewis dan Chris menjadi legenda yang diingat oleh setiap siswa yang menginjakkan kakinya di koridor-koridor sekolah itu. Mereka adalah dua pilar kecerdasan dan ambisi, yang tampaknya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ketika matahari menyapa pagi itu, lorong-lorong sekolah masih sunyi, namun di dalam hati Lewis, kegelisahan menyala dengan hebatnya. Ia merasa terusik dengan pemikiran bahwa Chris, rival terkuatnya, mungkin akan berhasil menggusurnya dari posisinya di puncak kelas. Dengan hati yang berdegup kencang, Lewis segera melangkah menuju sekolah, membawa keinginan yang membara untuk membuktikan dirinya. Saat kelas-kelas mulai terisi dan suara bel pertama bergema, suasana di ruang kelas terasa tegang. Semua pandangan tertuju pada Lewis dan Chris, dua sosok yang telah menjadi pusat perhatian sekolah dalam ajang persaingan yang tak ada habisnya. Begitu ujian besar dimulai, keduanya seperti dua pejuang yang beradu strategi, mencoba mengungguli satu sama lain dalam setiap soal yang diberikan. Namun, pertarungan mereka tidak hanya terjadi di dalam kelas. Di lapangan olahraga, mereka sama-sama menjadi motor penggerak bagi tim masing-masing, saling berlomba untuk meraih kemenangan. Lewis berlari dengan sekuat tenaga, mencoba melampaui langkah-langkah Chris yang begitu cepat. Namun, Chris tidak tinggal diam, ia memberikan perlawanan dengan semangat yang sama kuatnya. Ketegangan mencapai puncaknya saat akhirnya pengumuman nilai dilakukan. Detik-detik tersebut terasa seperti abad bagi Lewis dan Chris. Keduanya duduk dengan tegang, menanti-nantikan hasil yang akan menentukan siapa yang akan menjadi yang terbaik. Saat nama mereka dipanggil dengan nilai sempurna, sebuah senyuman kecil melintas di wajah keduanya. Namun, senyuman itu segera menghilang saat kenyataan menampar mereka: hanya satu dari mereka yang bisa menjadi yang pertama. Di lorong sekolah yang sepi, tatapan Lewis dan Chris bertemu, penuh dengan determinasi dan keinginan untuk menang. Tanpa sepatah kata pun terucap, mereka saling memahami bahwa pertarungan mereka belum berakhir. "Gabakal ada yang gantiin posisi gue!" seru Lewis, suaranya gemetar oleh keinginan yang begitu kuat. "Dan lo gabakal bisa kalahin gue!" balas Chris dengan mantap. Tanpa sadar, emosi yang membara meledak menjadi pertengkaran fisik. Dorongan dan pukulan saling terjadi, tanpa ampun. Mereka telah melupakan segalanya, kecuali ambisi mereka untuk menjadi yang terbaik. Guru dan siswa lain segera berusaha memisahkan mereka, tetapi kebencian yang telah terakumulasi begitu kuat membuat mereka sulit untuk dihentikan. Akhirnya, keamanan sekolah berhasil menenangkan situasi yang memanas itu. Lewis dan Chris terpaksa dipisahkan, tetapi dendam yang mereka rasakan masih membara di dalam hati masing-masing. Pertarungan itu berakhir dengan hukuman berat bagi keduanya dari pihak sekolah. Namun, bahkan dalam kekalutan dan penyesalan, ambisi mereka tidak pernah luntur. Beberapa tahun berlalu, tetapi bayang-bayang masa lalu masih menghantui sekolah itu. Kabar menyedihkan pun datang: Lewis ditemukan tewas bunuh diri, dan Chris terpuruk dalam kehidupan yang hancur akibat penyalahgunaan narkoba. Persaingan mereka telah memakan korban, merenggut masa depan yang seharusnya cerah. Dalam keheningan yang menyelimuti lorong-lorong sekolah, kata-kata Lewis terpatri dalam pikiran mereka semua, sebagai pengingat akan tragisnya akhir dari persaingan yang begitu membutakan mata mereka. Yang seharusnya menjadi motivasi untuk mencapai yang terbaik, malah berubah menjadi bencana yang menghancurkan.

Afraid - The Neighbourhood








Monday, 19 February 2024

In My Space part 2

Rivanio Virendra

-gitaaa

 

Dalam kegelapan, terhempaslah seseorang, hancur oleh kehidupan yang mengecewakan. Dia merayap di jurang keputusasaan, kehilangan daya untuk melangkah maju. Namun, seperti bintang yang bersinar dalam gelap, tahun demi tahun membentuk jalan untuknya.

Dia, yang terpuruk dalam kekacauan, merangkak dengan tekad yang belum pernah padam. Tiap jatuh menjadi batu loncatan, setiap luka adalah pelajaran. Dalam sunyi dan kesendirian, dia menemukan kekuatan yang terpendam di dalam dirinya.

Tanpa henti, dia melangkah, mengejar bayang-bayang mimpi yang teramat besar. Setiap langkah adalah sebuah perlawanan terhadap kekalahan. Tahun berganti, tapi semangatnya tetap membara.

Akhirnya, di ujung perjuangannya, dia berdiri di puncak keberhasilan. Mimpi yang tersembunyi dalam kegelapan, kini bersinar terang seperti fajar yang menandai kemenangan. Dalam cerita ini, kehancuran menjadi fondasi kebangkitan, dan puncak kemenangan adalah bukti ketangguhan seseorang yang tidak pernah menyerah pada keputusasaan.


"Rivanio merasa ia tidak pantas untuk hidup didunia ini."

"Kalau misalnya hidup gue ga diterima disini, kenapa gue harus hidup? Rivanio merasa sangat patah semangat dan rasanya percuma jika ia tetap hidup."


Back to 2019



Suasana rooftop yang indah, dengan angin yang menusuk kulit manusia manusia yang tak berdosa. Disana terdapat 2 pria. Mereka sedang asik berbincang. Rivanio yang sedang merenung dan juga Chris yang sedang sibuk menasehati lawan bicaranya.

"Lo mau nyerah lagi kan?." Chris bertanya tanpa memandang lawan bicaranya, sedangkan lawan bicaranya sedang sibuk melihat keindahan langit malam dan menghiraukan pertanyaannya bagaikan angin lewat.

"Punya mulutkan? jawab pertanyaan gue, Rivanio." Chris menatap Rivanio yang bahkan tidak menatapnya sedetikpun. Amarah dan kekesalan mulai menguasai Chris. 

"Sialan. Gue angin atau manusia sih?" Batinnya

"Harus banget gue jawab? harusnya lo udah taukan?." Pria bermaga Virendra itu akhirnya membuka suara dan menekankan nadanya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Chris.

"Gue udah bilang ke lo berulang kali Van. Kalau lo mau jadi penyanyi, jangan nyerah gitu aja!. Gaada yang instan di dunia ini,  BODOH!." Chris sudah kehilangan kendali, Chris segera berdiri dan menatap tajam kearah Rivanio. Tak peduli apakah ia menggubrisnya atau tidak.

"Lo kalau gatau apa apa tentang gue, gausah sok tau bisa ga?." Rivanio berdiri dan mendorong Chris, untungnya Chris dapat menjaga keseimbangannya dengan baik sehingga ia tidak langsung jatuh dan tersungkur ketanah.

"Mulut lo lemes banget tau gak? mending lo pergi dari hidup gue." Rivanio segera pergi meninggalkan Chris sendirian. Hati Chris kini masih tersulut emosi dan kesedihan karena perkataan dari Rivanio yang sangat menusuk bagaikan pedang yang kini menusuk dalam dilubuk hatinya. Toh perkataan Chris ada benarnya untuk Rivanio.

Perasaan Rivanio tidak karuan, ia juga sadar, bahwa perlakuannya itu salah, tapi apa boleh buat? tidak semua manusia bisa mengerti kita bukan?. Rivanio kini terduduk di anak tangga sembari menutup mukanya dengan kedua tangannya untuk mengeluarkan seluruh pikirannya didalam sebuah tangisan.

Rivanio sungguh tau bahwa menyerah ditengah jalan dan memilih untuk berhenti itu adalah masalah besar, tapi, Rivanio tidak bisa bertindak apa apa, ia tidak punya siapa siapa sekarang. Keluarga? omong kosong. Teman? palsu. Pasangan? mimpi. Rivanio hanya bisa mengeluarkan seluruh emosinya melalui tarian dan nyanyian. Tapi, semua itu hilang hanya karena rumor rumor sialan itu.


"GUE BENCI SAMA DUNIA INI, SIALAN." Rivanio hancur. Dia butuh seseorang.


Rivanio menyenderkan kepalanya didinding yang berada disamping kirinya, ia termenung. Ia kembali mengingat masa masa ia masih menjadi seorang penyanyi bersama teman temannya. Masa masa dimana ia bisa menyapa seluruh fansnya yang kini malah mengkhianati dirinya sendiri.

Selang beberapa menit, Rivanio akhirnya tenang, lalu menyeka air matanya dengan tangannya dan beranjak dari tangga.

Rivanio pergi meninggalkan gedung tinggi itu, tidak tau arah, ia hanya pergi sesuai isi pikirannya. Dinginnya udara menusuk kulit Rivanio yang kini tidak tertutup oleh kain tebal. Ia hanya menggunakan kaos dengan kain tipis.

Ia membuka pintu rumahnya, sepi, sunyi. itu yang Rivanio rasakan pertama kali saat masuk kedalam rumahnya itu. Ia tidak peduli, ia hanya ingin menuju kamarnya dan menyendiri.

Kini Rivanio sudah didalam kamarnya yang berwarna abu abu muda dengan corak hitam putih. Rivanio menidurkan badannya dan membiarkan pikirannya lepas bebas. Pikiran ramai? sudah biasa baginya. Rivanio menoleh kearah meja kecil disamping tempat tidurnya, terdapat fotonya bersama teman-temannya dulu. Ia mengambil foto kecil itu dan memandangnya dengan seksama.

"Kenapa gue gabisa kayak dulu lagi? Kenapa gue harus dapet banyaknya kepahitan dunia ini?." Rivanio berbicara dengan dirinya sendiri sembari membolak balik foto kecil itu. Kesedihan, kemarahan menjadi satu didalamnya.

Rivanio melempar keras foto itu kesembarang arah dan kembali membungkus dirinya dibalik selimutnya yang tebal. Rivanio bingung apa yang terjadi dengan dirinya hari ini.

"Kapan gue ngerasain bahagia?." Hatinya kini berbicara dengan lantang. Changbin hanya bisa memejamkan matanya dan menghiraukan pikiran itu.

Burung yang berkicau, suara kendaraan yang berlalu lalang. Suara suara itu masuk kedalam telinga Rivanio dan membangunkannya dari tidur lelapnya. Pagi yang indah bukan? Rivanio tidak pernah merasakan hal ini. Biasanya ia terbangun akibat pertengkaran orangtuanya itu, tapi kini sunyi. Apakah mereka meninggalkan Rivanio sendiri?. Jika memang benar, Rivanio juga tidak akan protes, siapa coba yang ingin serumah dengan orangtua yang tidak pernah memberikan kedamaian bagi anaknya.

Rivanio terbangun perlahan dan menyenderkan tubuhnya dipapan kasur yang berada dibelakangnya. Rivanio mengumpulkan nyawanya sebentar. 

Rivanio bingung harus melakukan apa hari ini. Kejadian kemarin membuatnya sangat lelah akibat menangis dan bertengkar dengan temannya itu. Rivanio mengambil handphone kecilnya yang berada di meja dan langsung membuka aplikasi musik untuk membuka playlist yang selalu ia dengar.

Rivanio menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan

"It's okay Van! yuk bisa, lo gaboleh pergi sebelum dijemput." Rivanio siap untuk menjalani hari harinya, meskipun hari harinya akan berjalan sama seperti biasanya 



Dia membuka pintu dan menginjakkan kakinya ke tanah sembari melihat sekeliling. Sejuk dan hangat. Itulah yang Rivanio rasakan sekarang. Setelah dinginnya air yang menusuk tubuhnya yang mungil. Ia segera mengenakan headphonesnya lalu berjalan sembari menikmati alunan lagu.

Rivanio berjalan dan berhenti disuatu cafe. Rivanio tersenyum dan segera memasuki cafe itu dengan sumringah. Rivanio segera memesan kopi kesukaannya dan memilih untuk menyendiri disudut yang paling tenang.

Disaat ia menikmati hangatnya kopi, ia melihat seorang anak membawa sebuah piala. Anak itu bercerita kepada kedua orangtuanya bahwa ia memenangkan lomba menyanyi dan ia ingin menjadi seorang penyanyi nantinya. Rivanio tersenyum melihat semangat anak tersebut. Dia ingat betul bagaimana rasanya bermimpi menjadi penyanyi dan berjuang untuk meraihnya. 

Namun, hidup telah mengajarkannya bahwa tak selalu mimpi bisa terwujud dengan mudah. Dia menyesap kopi pelan, merenung.

Dia teringat kata-kata Chris semalam, tentang betapa pentingnya untuk tidak menyerah. Tapi, apakah Rivanio masih memiliki semangat yang sama seperti dulu? Apakah semua perjuangannya selama ini telah sia-sia? 

Rivanio memejamkan matanya sejenak, mencoba merenung dalam-dalam. Dia tahu, dia harus memilih: meneruskan perjuangannya sebagai penyanyi atau menyerah dan mencari jalan baru. Tapi, apa jalan baru yang bisa dia tempuh jika bukan menjadi penyanyi?

Dia membuka matanya, melihat ke luar jendela. Langit biru dan awan putih terlihat begitu damai. Rivanio memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Dia akan terus berjuang menjadi penyanyi meskipun jalan itu terasa begitu sulit.

Setelah selesai minum kopi, Rivanio pulang ke rumahnya. Dia duduk di kamarnya, mengambil gitar kesayangannya, dan mulai menciptakan lagu. Lagu tentang perjuangan, tentang mimpi, tentang hidup. Lagu yang mewakili perasaannya saat ini.

Rivanio merasa lega. Meskipun masih banyak rintangan di depan, dia yakin bahwa dengan semangat dan tekad yang kuat, dia bisa meraih mimpinya. Dia akan terus berjuang, tidak peduli seberapa beratnya tantangan yang akan dia hadapi.

Hari berganti hari, Rivanio semakin giat dalam mengejar mimpinya. Dia mulai tampil di berbagai acara kecil, mulai dari cafe hingga acara amal. Dia juga aktif di media sosial, membagikan karyanya dan terus membangun basis penggemar.

Lama kelamaan, kerja keras Rivanio mulai membuahkan hasil. Dia mendapatkan tawaran kontrak rekaman dari sebuah perusahaan musik lokal. Rivanio sangat bahagia, semua perjuangannya selama ini tidak sia-sia.

Rivanio kini menjadi penyanyi yang sukses. Dia memiliki banyak penggemar dan lagunya sering diputar di radio. Dia juga menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk anak-anak muda yang bermimpi menjadi penyanyi seperti dia.

Rivanio belajar bahwa hidup memang penuh dengan liku-liku dan rintangan. Tapi, jika kita memiliki tekad dan semangat yang kuat, kita pasti bisa meraih apa pun yang kita inginkan. Rivanio berterima kasih atas semua pengalaman pahit dan manis yang telah dia alami, karena itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bijaksana.

Monday, 29 January 2024

Love On The Competition.

 

Christopher Bahng As Alvino Tian Rivendra 
- gitaaa

Cinta itu seringkali menjadi rahasia yang rumit, mengikuti jalan-jalan tak terduga dalam hidup mereka. Di antara sorak-sorai pertandingan yang memenuhi udara, terdapat dua jiwa yang terikat dalam cinta yang penuh hambatan.

takdir memainkan peran yang sulit dalam kisah cinta mereka. Keduanya saling mencintai, namun agama mereka menjadi rintangan yang tak bisa diabaikan. Mereka tahu bahwa melawan kehendak Tuhan mereka masing-masing akan membawa konsekuensi yang sulit.

Mereka terjebak dalam dilema cinta dan keyakinan agama. Keduanya ingin bersama, namun mereka juga ingin menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Cinta mereka adalah ujian yang rumit, mengajarkan bahwa kadang-kadang kita harus berjuang melawan perasaan dalam rangka mematuhi keyakinan kita.

Mungkin, suatu hari nanti, jalan mereka akan terbuka, atau mungkin mereka akan belajar menerima kenyakinan masing masing. Sampai saat itu, kisah mereka adalah pengingat bahwa cinta tidak selalu mengikuti skenario yang kita inginkan, tetapi mungkin itu adalah bagian dari rencana yang lebih besar yang belum kita mengerti sepenuhnya.

Let's start the journey.



di tengah ramainya perlombaan yang mengisi lapangan besar di sekolah, aku bertemu denganmu. laki laki tinggi yang sedang menggunakan jersey kebanggaannya, tentu saja terdapat nama sekolah serta nomor punggung. teman temannya dan dirinya berkumpul di koridor sekolah, membuatku tertarik dengannya 

angka 3, iya itu adalah nomor punggungnya, dengan sepatu orange yang mencolok diantara teman teman lainnya membuatku semakin tertarik dengannya. "siapa dia? dari sekolah mana?". itu isi pikiranku saat bertemu dengannya.


pertandingan dimulai, aku menyaksikan seluruh pertandingan dan memberi support untuk sekolahnya. disaat teman temanku bersorak untuk sekolah lawan, aku melihat kamu, aku memperhatikan kamu. aku menyoraki nomormu dalam diam. aku tersenyum bangga saat quarter terakhir dan sekolahmu menang atas perlombaan

kukira,  aku hanya menganggumi saja. ternyata tidak, lebih dari itu. semakin aku melihatmu semakin tumbuh rasa ini aku semakin bersemangat saat pertandingan dimulai dan sekolahnya bermain.


hari itu, kamis siang, sekolahnya sedang bertanding dengan sekolah lain. aku tidak sempat melihat pertandingan itu secara lengkap, aku masih di dalam kelas bergelut dengan pelajaran yang ada. 

bel berbunyi, tandanya siswa-siswi sudah boleh keluar dan melihat pertandingan itu, aku segera berlari menuju pinggir lapangan dan melihatnya yang sedang memberi hormat kepada penonton dan lawan. aku tersenyum bangga sekali lagi kepada sekolahnya, aku duduk dipinggir lapangan sembari menunggu timnya melakukan pendinginan.

aku bernekat untuk berfoto bersama dengannya, dengan bantuan temanku akhirnya aku berhasil berfoto dan mengenalnya. nama yang pertama aku dengar adalah " Alvino ". iya namanya adalah Alvino, aku tersenyum lebar saat tau namamu dan berhasil berfoto bersama.

semenjak kejadian itu aku semakin bersemangat untuk mendukung sekolahnya bahkan meneriakkan namanya dengan kencang, bertujuan untuk memberikan semangat. sampai sekarang aku pun masih mengingat momen momen itu.

momen momen itu tidak berenti sampai disana saja, saat pertandingan final, tepatnya pada hari sabtu, aku segera berlari kearahnya setelah kami semua melakukan closing ceremony. aku memberikannya sebuah hadiah yang masih aku ingat jelas seperti apa bentuknya

mungkin bagi orang orang perjalanan cintaku ini berjalan mulus, namun... kalian semua salah, kisah cinta itu hanya berenti di bulan itu saja. sungguh aku tak tahu apa maksudnya. aku sedih dan terpuruk selama beberapa minggu.

dia meninggalkanku ditengah tengah sebuah ruangan yang penuh kasih sayang dan kenangan kenangan indah didalamnya, aku sendirian didalam ruangannya terpuruk dalam kesedihan dan kerinduan. 

dia sudah pergi meninggalkanku dan menikmati kehidupannya sendiri.

last message for you :

makasih udah hidup, makasih udah berjuang, makasih udah menjadi anak hebat sampai sekarang. aku bangga, benar benar bangga sama kamu, aku tau kita baru bertemu selama beberapa hari saja,  

aku bersyukur udah ketemu kamu ditahun ini, semoga tahun depan aku masih bisa melihatmu lagi. aku percaya kita masih bisa bertemu di lain waktu. dengan perbedaan perbedaan diantara kita, aku percaya itu tidak akan menganggu kita atau bahkan semakin mendekatkan kita, who knows right?

maaf aku masih rindu denganmu, maaf aku tidak bisa melupakanmu. aku harap kamu baik baik saja disana.

thankyou

Monday, 22 January 2024

In My Space

 

Kim Woojin as - Rivanio Septian Virendra
gitaa

Di suatu senja yang kelam, bayang-bayang masa lalu membisu dalam sunyi. Seseorang, yang dulu begitu bersinar, kini terhempas oleh badai fitnah dan rumor yang merayap tanpa belas kasihan. Hati yang dulu dipenuhi cinta dan kepercayaan, kini terabaikan dan terlupakan di balik kepalsuan kata-kata.

Rumor, seperti angin liar, membawa kabar palsu yang menyudutkan orang yang tak bersalah. Suara bisikan-bisikan jahat itu tumbuh seperti gulma di benak setiap orang, menciptakan bayangan hitam yang melilit erat sosok yang terpinggirkan ini. Masyarakat yang dulu bersatu, kini terpecah belah oleh racun kebohongan yang merajalela.

Sosok yang terlupakan ini, seperti bunga yang tak lagi dihirup aroma keindahannya, terdiam dalam kepedihan yang mendalam. Tatapannya penuh dengan rasa kecewa dan kehilangan, mencari pemahaman di antara hiruk-pikuk tuduhan yang tak berdasar. Terpatri di matanya, rona kesepian yang menusuk kalbu, seperti seorang musafir yang tersesat di padang pasir tanpa mata air penghibur.

Namun, di balik kabut kebohongan, tersembunyi kisah yang belum terungkap. Hatinya masih merintih di dalam kegelapan, menanti hari ketika kebenaran akan terungkap dan mentari keadilan akan bersinar kembali. Sosok yang terlupakan ini, bagai ksatria yang tertidur dalam mimpi panjang, menunggu keajaiban penyadaran dari para penilai yang terburu-buru.

Kita, sebagai saksi bisu, dihadapkan pada pertanyaan moral. Apakah kita akan membiarkan sosok yang terlupakan ini tenggelam dalam samudra fitnah yang tak berdasar, ataukah kita akan menjadi pahlawan yang membela kebenaran? Kita dapat merajut kembali benang keadilan yang koyak, memberikan panggung kepada yang terpinggirkan, dan mengembalikan kehormatan yang telah tercabik oleh rumor yang terbukti salah.

Dalam cerita ini, sosok yang terlupakan bukan hanya simbol keadilan yang terzalimi, melainkan juga cermin bagi setiap individu yang rentan menjadi korban fitnah dan prasangka. Mari kita bersatu melawan angin ribut dusta, menggenggam tangan yang terlupakan, dan bersama-sama menulis kembali kisah kehidupan yang hakiki, bebas dari bayangan-bayangan tak benar yang mampu meruntuhkan kehormatan dan martabat seseorang.


2019


Malam hari adalah waktu yang sangat indah bukan? itu yang ada dalam pikiran pria yang sedang duduk didepan jendela sembari menikmati indahnya lintang dan luna yang sedang terang benderang. Pria itu bernama Rivanio Septian Virendra ia hanya tinggal seorang diri dikamarnya yang sempit dan kecil. 
Rivanio menenangkan pikirannya dengan cara melihat indahnya ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu langit malam. Langit malam itu senantiasa menemani Rivanio dikala ia sedang tidak tenang dan membutuhkan seseorang, namun tidak ada yang mau menemaninya sekarang.

Pikiran Rivanio sedang bertempur hebat, yang bahkan dapat mempertaruhkan cita citanya. cita citanya adalah menjadi penyanyi yang terkenal, namun naas.. hampir semua orang tak menyukai keberadaanya dibumi ini, akibat banyaknya rumor yang menjatuhkan dirinya sendiri. Rumor rumor itu menusuk bagaikan pedang yang kini menusuk sangat dalam dihatinya.
Rivanio segera berdiri dan merebahkan tubuhnya dikasurnya itu, ia menatapi plafonnya yang berwarna biru itu, yang sangat menenangkan tidak seperti pikirannya.

" Kenapa semua orang harus hancurin cita cita gue satu satunya?. " Ia merasa tak terima, lantaran ia baru saja masuk dalam suatu grup dan kini ia harus keluar akibat, perkataan orang orang didunia maya yang seakan akan memiliki hipnotis yang membuat semua orang orang percaya.

Debu debu dikamarnya perlahan menjadi air mata yang kini menghiasi pipi Rivanio. Rivanio merasa ia tidak pantas untuk hidup didunia ini.
"Kalau misalnya hidup gue ga diterima disini, kenapa gue harus hidup? Rivanio merasa sangat patah semangat dan rasanya percuma jika ia tetap hidup.


 2021 - Now

Waktu berjalan cepat seperti hembusan angin yang menghilang cepat namun berbekas. Itu yang dirasakan Rivanio sekarang, masih ingat dengan dirinya ditahun 2019? yang terpuruk dan menyerah akan semuanya. Siapa sangka jika ia tetap hidup sampai sekarang dan tidak menyerah akan apa yang sudah terjadi.

Rivanio kini sudah menjadi penyanyi, seperti yang ia cita citakan.. walaupun ia tidak seterkenal dulu, tetapi dia bahagia dan merasa bangga akan dirinya sendiri karena sudah kuat dan tidak menyerah akan apa yang sudah terjadi dihidupnya.
Mungkin awalnya berat baginya, tetapi seluruh kerja kerasnya tidak terbuang sia sia bukan? kini Rivanio dapat melihat dunianya didepan mata, yaitu fansnya sendiri. Rivanio merasa tenang setiap kali ia melihat fans fansnya itu, mereka dalah rumah terbaik baginya.

Dari jalan cerita tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, sekeras kerasnya kita berjuang pasti akan membuahkan hasil. Jangan pernah menyerah ditengah jalan dan meninggalkan seluruh cita citamu itu. Kerjarlah apa yang menjadi tujuanmu, mungkin saat kita berjuang rasanya sakit dan lelah, tetapi jika kita susah selesai siapa yang menikmati hasilnya? kita bukan?
Teruslah berjuang hingga kamu dapat mengerti betapa indahnya cita citamu itu.