Baby - Justin Bieber (Chaewon Le Sserafim and Sunwoo The Boyz)

Kim Chaewon as Theodora Khandra Camellia

Love On The Competition

Christopher Bahng As Alvino Tian Rivendra - gitaaa

Showing posts with label enhypen. Show all posts
Showing posts with label enhypen. Show all posts

Monday, 13 May 2024

Neworld (𝗪𝗔𝗥𝗡𝗜𝗡𝗚 𝗟𝗢𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗞𝗦)



Daniel, yap itu nama salah satu mahasiswa semester akhir jurusan sastra. Kali ini ia ingin menyelesaikan skripsinya, lalu saat ia bertanya pada dosen "Tema apa yang akan di ambil untuk novelnya?" sang dosen menjawab dengan santai "Fantasi". 
.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

"Kan udah disaranin masuk jurusan teknik aja daripada sastra, elunya ngeyel" ejek David "Diem apa kuhantam!" emosi Daniel. Pesanan bakso dua porsi sudah menanti mereka berdua di meja dengan es teh sebagai penghilang dehidrasi. "Menu baru disini?" tanya Daniel pada temannya "Ya, baru ini," jawabnya.
.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Daniel duduk di bangku apartemennya, laptop terbuka di depannya, dan secangkir kopi hangat menyala di sampingnya. Dia memikirkan tema fantasi untuk novelnya, mencatat ide-ide yang muncul di kepala. Daniel merasa sedikit bingung. Ide-ide untuk tema fantasi berputar di kepalanya, tapi dia merasa sulit untuk memilih satu yang tepat. Dia mencoba untuk fokus dan mengingat apa yang membuatnya tertarik pada genre fantasi.

ting..ting...

Dosen 
Para Mahasiswa kelas saya, tenggat waktu pengerjaan novel aka skripsi dikumpulkan paling lambat satu minggu dari hari ini.

Daniel merasa sedikit tertegun saat menerima pesan dari dosen tentang tenggat waktu pengerjaan skripsinya. Satu minggu! Itu terasa seperti waktu yang sangat singkat. Dia merasa semakin tertekan untuk menyelesaikan novel fantasi yang menjadi tema skripsinya.

Namun, dia juga merasa bahwa ini adalah dorongan yang dia butuhkan untuk fokus sepenuhnya pada penyelesaian karyanya. Dengan hati yang berdebar, dia memutuskan untuk merangkul tantangan ini dengan tekad yang baru. Dia mempercepat tempo pikirannya, mencoba menangkap setiap ide yang muncul dan menuangkannya ke dalam kata-kata dengan cepat.

Tanpa menunggu lebih lama, Daniel kembali membenamkan dirinya dalam pekerjaannya, dengan harapan bahwa dia akan mampu menyelesaikan skripsinya tepat waktu dan dengan hasil yang memuaskan.
.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Malam telah tiba, dan Daniel mulai merasa sangat ngantuk. Sebelum dia benar-benar terlelap, dia memutuskan untuk berdoa. Dia berdoa agar skripsinya bisa menjadi yang terbaik di antara yang lain, dan dia berharap bisa mendalami karakter-karakternya dengan baik.

Setelah berdoa, Daniel merasa lebih tenang. Dalam keheningan malam, dia meraih bantalnya dan memejamkan mata. Pikirannya masih terhanyut dalam dunia imajinasinya, tetapi tubuhnya merasa lelah dan membutuhkan istirahat.

Dengan perlahan, Daniel tenggelam dalam alam mimpi, di mana petualangan dan keajaiban menunggunya, serta harapan untuk mewujudkan impian akademiknya.

.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Daniel merasa terganggu dengan angin yang menerpa dirinya, membuatnya terjaga dari tidurnya yang nyenyak. Ketika ia membuka mata, ia dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa: dia berada di tengah padang rumput yang luas.

Dengan penuh kebingungan, Daniel bangkit dari tidurnya dan memandang sekeliling. Langit gelap terhampar di atasnya, dan bintang-bintang berkelap-kelip di kejauhan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di sekitarnya, hanya sunyi dan angin yang berdesir lembut. Daniel meraba-raba kantongnya dan menyadari bahwa ponselnya tidak ada di sana. Dia merasa semakin cemas. Bagaimana dia bisa tiba-tiba berada di sini? Apakah ini mimpi atau nyata?

bruk..

Daniel tersandung dan jatuh keras ke tanah setelah menabrak sesuatu yang tidak terlihat di kegelapan. Ketika ia menoleh ke arah itu, ia dikejutkan dengan pemandangan yang benar-benar luar biasa: seorang manusia dengan telinga yang berbentuk seperti telinga kucing sedang berdiri di hadapannya.

Ia takut dengan makluk itu, berbentuk layak manusia namun berbeda. "Maafkan aku! aku gak bermaksud menabrak, jangan makan aku!" gelisah Daniel. Makhluk itu menatap Daniel dengan keheranan, lalu tiba-tiba tertawa kencang. "Hei! Ayolah, aku bukan pemakan manusia, apakah aku terlihat semenakutkan itu?" katanya dengan nada yang ramah.
Wajah makluk itu berubah serius, dan kecemasan yang tadi muncul kembali menghampiri Daniel. Dia merasa jantungnya berdebar kencang, tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. "Apakah kau tersesat? Mau kubantu?" tanya nya. "Ya, aku benar-benar tersesat. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini," jawab Daniel dengan suara gemetar. Amara mengangguk dengan penuh pengertian. "Jangan khawatir, aku akan membantumu. Ikutilah aku, kita akan mencari jalan keluar dari sini bersama-sama." Dengan hati yang sedikit lebih tenang, Daniel mengikuti makluk itu sambil berharap bahwa dirinya akan kembali ke apartermennya.

.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Makhluk itu berjalan di atas akar pohon yang besar, sementara Daniel berjalan di jalan yang seharusnya. "Ehm, anu," ragu Daniel. "Apa?" sahut makhluk itu, menoleh ke arah Daniel dengan keingintahuan. Makin ragu, Daniel semakin ingin tahu. "Siapa namamu? Seharusnya kamu punya nama kan?" akhirnya Daniel berhasil menanyakannya.

"Oh, cuma nanya nama doang kok sulit," Makhluk itu berbalik badan lalu meloncat ke arah Daniel. "Namaku Zergas, biasa dipanggil oleh makhluk disini Gas Alam." Daniel mendengarkan tuturan Zergas tentang dirinya yang biasa dipanggil "Gas Alam" dan berusaha menahan tawa. "Gas alam? Yang bener aja!" seru Daniel.

"Kenapa emangnya? Aneh?" jawab Zergas dengan alis yang bersatu, sedikit tersinggung dengan reaksi Daniel. Daniel mencoba menahan tawanya yang hampir pecah. "Maaf, bukan itu maksudku. Itu hanya terdengar unik, itu saja," kata Daniel sambil berusaha menjelaskan, berharap tidak menyinggung perasaan Zergas. Zergas mengangguk, alisnya kembali bergerak ke posisi semula. "Ah, mengerti. Tidak apa-apa," ucapnya dengan nada yang sedikit lebih ringan.

Tiba-tiba, seekor serigala muncul di depan Zergas. "Hai, Elard," sapanya ramah. Namun, tiba-tiba serigala itu berubah menjadi manusia, dengan sepasang kuping di kepalanya.

"Kau membawa siapa? Kok beda gitu, dia jenisnya apa?" tanya manusia serigala yang dipanggil Elard. Daniel terkejut parah, hampir saja pingsan, tapi dia berhasil menahannya. Zergas menjawab dengan tenang, "Ini adalah Daniel, seorang manusia. Dia tersesat disini terus aku bantu dia mencari jalan pulang." Elard menatap Daniel dengan tajam, mencoba memahami kehadiran manusia di tempat tersebut. "Hmm, manusia, ya? Ini benar-benar menarik. Jangan biarkan dia membuat masalah, Zergas," ucap Elard dengan nada penekanan.

Zergas mengajak Daniel untuk melanjutkan perjalanan, namun yang membuat Daniel merasa tidak nyaman adalah Elard, manusia serigala itu, yang terus mengikuti mereka dengan moncongnya yang dekat dengan Daniel. Dengan hati yang berdebar, Daniel mencoba untuk tetap tenang dan fokus pada langkah-langkahnya. Namun, kehadiran Elard yang terus mengikutinya membuatnya merasa semakin tegang.

"Zergas, apakah kita bisa berbicara sebentar?" bisik Daniel kepada Zergas, berusaha untuk tidak menarik perhatian Elard. Zergas mengangguk, dan mereka berdua berhenti sejenak. Daniel berbicara dengan pelan, "Aku gak nyaman sama Elard yang terus ngikutin kita. Apa kamu bisa memberitahunya untuk memberi sedikit jarak?" Zergas menatap Daniel. "Tentu tidak, beritau dia sendiri, kau memiliki mulut bukan?" Daniel merasa agak terkejut dengan tanggapan Zergas yang agak tegas, tetapi dia memahami bahwa mungkin dia harus berbicara langsung dengan Elard. Dengan sedikit keberanian, Daniel memutuskan untuk menghadapi situasi ini.
Dia menghela nafas dan memutar tubuhnya ke arah Elard yang berada di dekatnya. "Elard, maaf mengganggumu, tapi aku merasa agak tidak nyaman dengan moncongmu yang terlalu dekat denganku. Bisakah kamu memberi sedikit jarak?" Elard menatap Daniel dengan tatapan tajam, tetapi setelah beberapa saat, ekspresinya menjadi lebih lembut. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman," ucapnya dengan suara yang hangat. "Aku akan memberikan sedikit jarak."
.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Daniel tetap berjalan bersama Zergas, mencari jalan keluar dari Hutan asing itu Namun, tidak lupa bahwa Elard masih mengikuti mereka dari belakang. "Pulang dulu, ya, Gas Alam," seru Elard dari belakang Daniel dan Zergas, memanggil Zergas. Zergas berhenti sejenak dan menoleh ke arah Elard dengan ekspresi sedikit kecewa. "Baiklah, Elard. Jangan berbuat nekat di sini, ya. Ayo, kita lanjutkan perjalanan," ucapnya sambil mengajak Daniel untuk melanjutkan. Daniel melihat Elard berbalik dan meninggalkan mereka, merasa sedikit lega bahwa kehadiran Elard tidak lagi mengganggu perjalanan mereka. Dia berharap bahwa Elard akan baik-baik saja saat kembali ke tempatnya sendiri.

Daniel berhenti di tempat, merasa kebingungan. "Gas, sebenernya aku ada di mana? Kok banyak makhluk-makhluk siluman gitu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Zergas berbalik dan menatap Daniel dengan serius. "Panjang ceritanya, aku adalah wakil ketua di sini. Jadi, kalau ada yang nakal, omongin aja pake namaku atau pake nama Jad," jawab Zergas dengan nada yang tegas. Daniel mengangguk, mencoba memahami situasi yang sedang dihadapinya.

Daniel menanyakan siapa Jad pada Zergas, dan Zergas menjawab dengan serius, "Itu ketuanya di sini, atau apa ya bahasanya, raja! Ya, dia jadi orang yang paling ditakuti di sini, meskipun dia berwujud rusa. Tapi, dia adalah yang paling tua dan paling dihormati di antara kami." 

Daniel merasa terkesan dengan penjelasan Zergas tentang Jad. "Dia pasti orang yang hebat," kata Daniel dengan penuh kagum. "Semoga kita tidak bertemu langsung dengannya, ya."  Zergas mengangguk setuju. "Benar, kita harus berhati-hati. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan kita, siapa tahu kita bisa menemukan jalan keluar dari hutan ini." 

.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Zergas merasa angin berdesis seperti bisikan mendarat di telinganya. Dia menghentikan langkahnya sejenak, mendengarkan dengan serius. Suara angin terasa seperti pesan dari alam, membawa kabar yang mungkin penting. Daniel, yang berada di samping Zergas, melihat ekspresi serius di wajahnya. "Ada apa, Gas?" tanyanya dengan penasaran. Zergas mengangguk perlahan. "Angin membawa pesan. Ada sesuatu yang perlu kita perhatikan," jawabnya dengan nada khawatir.

Suara langkah rusa terdengar di sekitar mereka, menyebabkan ketegangan semakin terasa di udara. "Gas Alam, kau membawa siapa itu?" ucap seseorang dari belakang. Zergas mengangkat kepalanya dengan tenang, menatap ke arah suara yang datang. "Ini Daniel, seorang manusia yang tersesat di Hutan ini. Aku membantunya mencari jalan keluar," jawabnya dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan.

Daniel menelan ludah, merasa tegang saat mendengar suara tersebut. Dia berdiri di samping Zergas, siap untuk menghadapi siapapun yang datang. Seseorang muncul dari bayangan, dan Daniel melihat seorang rusa yang megah berdiri di hadapannya, dipenuhi dengan aura kekuatan dan kebijaksanaan. Itu pasti Jad, sang raja yang mereka bicarakan sebelumnya.

Sosok rusa itu mendekat ke arah Daniel, kemudian berubah menjadi manusia tanpa adanya telinga atau tanduk di kepalanya, persis seperti manusia asli. "Kau datang dari mana, manusia? Maksudku, Daniel," tanyanya.

Daniel merasa tegang ketika dia ditanyai langsung oleh sosok yang jelas merupakan Jad, raja Hutan yang diceritakan Zergas. "Aku tersesat di sini. Awalnya, aku sedang tidur di kamar apartemenku, dan saat aku bangun, tiba-tiba aku sudah ada di sini," jawab Daniel dengan suara yang agak terbata-bata, ragu-ragu tentang apa yang harus dia katakan.

Jad menatapnya dengan tatapan tajam, seolah-olah sedang meneliti setiap kata yang keluar dari mulut Daniel. "Tersesat, begitu?" ucapnya dengan nada yang dipenuhi dengan pertimbangan. "Itu adalah peristiwa yang luar biasa. Namun, kau telah berada di sini sekarang, di dunia ini. Jadi mari kita rayakan, benar bukan Gas alam." Daniel dan Zergas mengangguk sebagai jawabannya.

.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Daniel merasa sungguh ingin pulang, berbaring di kamarnya dengan AC yang nyala, membuat udara menjadi dingin dan nyaman. Namun, kenyataannya sangat berbeda. Dia tidak dapat mengendalikan situasi, terjebak dalam sebuah perayaan penyambutan yang diadakan oleh Jad, sang raja Hutan Mistik.

Dia merasa agak terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya. Meskipun penasaran dengan perayaan ini, rasa ingin pulang terus mengganggunya. Namun, Daniel juga merasa bahwa dia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memahami lebih banyak tentang dunia Fantasia ini.

"Hey, manusia, kudengar namamu Daniel, ya?" tanya seseorang yang memiliki telinga rubah di atasnya. Daniel mengangguk, "Oke, kenalin, namaku Sun!" ujarnya. Daniel merasa sedikit terkejut dengan kehadiran Sun yang ramah. "Senang bertemu denganmu, Sun," jawabnya dengan senyum kecil. Sun tersenyum hangat. "Sama-sama, Daniel. Jangan ragu untuk bertanya jika kamu butuh bantuan di sini, ya. Kami di sini saling membantu," katanya dengan suara ramah.

Melihat makhluk dengan telinga rubah di kepalanya membuat Daniel teringat pada kakaknya, Nicholas. Nicholas sangat menyukai rubah dan memiliki sifat yang ceria, mirip dengan Sun. Mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama, bermain dan menggali petualangan di mana pun mereka berada. Daniel tersenyum melihat Sun, merasa hangat di hatinya saat mengenang kenangan indah bersama kakaknya. Meskipun mereka berada di dunia Fantasia yang begitu berbeda, kehadiran Sun memberinya rasa kenyamanan dan kehangatan yang membuatnya merindukan kebersamaan dengan Nicholas.

"Dua makhluk yang ceria dan penuh semangat," gumam Daniel dalam hati, merasa terhibur oleh kesamaan Sun dengan kakaknya. Dia berharap suatu hari bisa berbagi cerita tentang dunia Fantasi ini dengan Nicholas, membuatnya merasa dekat dengan kakaknya meskipun berada di tempat yang jauh. Sun membubarkan lamunan Daniel yang sejak tadi terpesona melihatnya. Dengan ekornya yang bergerak lincah dan tatapan mata yang penuh keceriaan, Sun mengajak Daniel untuk bergabung kembali dengan suasana perayaan.

Daniel tersenyum, merasa terhibur oleh kehadiran Sun yang riang. Dia berterima kasih pada Sun karena telah memecahkan lamunannya, mengalihkan perhatiannya kembali ke lingkungan sekitarnya. "Terima kasih, Sun," ucap Daniel dengan ramah. "Aku harus ikut serta dalam perayaan ini. Ayo kita bergabung!" seru Sun.
.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Daniel melihat Zergas dari kejauhan, dikelilingi oleh makhluk-makhluk termasuk Jad, Elard, dan yang lainnya. Dia menghampiri mereka, tentu saja dengan Sun yang riang di sisinya. "Hai, semua!" seru Sun dengan ceria, sementara semua makhluk menyambut mereka dengan hangat. Daniel merasa agak canggung, tetapi tanpa disengaja, dia melihat makhluk lucu yang sedang digendong oleh Elard dan Jad.

"Zergas itu apa?" tanya Daniel, tertarik pada makhluk yang digendong. "Oh itu, itu anak serigala tapi udah hybrid, campuran anjing liar dan serigala," jawab Zergas. "Apakah itu anak Elard?" tanya Daniel, menunjuk ke arah makhluk yang digendong oleh Elard. Zergas terkejut dan kemudian tertawa kecil. "Bukan lah, Elard aja masih kecil, mana mungkin itu anaknya," kata Zergas sambil menyelesaikan tawanya. "Di sini, makhluk dibedakan menjadi dua. Salah satunya berbentuk hewan namun bisa berubah menjadi manusia. Dan yang kedua, tetap berbentuk hewan dan biasanya dijadikan prajurit, pengawal, atau peliharaan. Jika dipikir secara rasional, memang cukup sulit untuk dimengerti oleh otak manusia."

"Naka!" teriak Sun, suara riangnya memecah keramaian, dan semua menoleh ke arahnya, termasuk Daniel. "Apa yang terjadi, Sun?" tanya Jad, raja Hutan Mistik, dengan rasa ingin tahu. "Selalu saja dia menggunakan wujud aslinya untuk menjahiliku tanpa henti!" jawab Sun dengan nada kesal. "Aish, berhenti, Naka!" kata Sun dengan wajah yang memancarkan ketidaksenangan.

Naka, makhluk yang dipanggil, merubah wujudnya dari kucing oranye menjadi manusia dengan kuping di kepalanya. Tapi bukannya menunjukkan penyesalan, Naka justru tertawa puas. Daniel melihat adegan ini dengan campuran antara kebingungan dan penasaran. Dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi antara Sun dan Naka, dan mengapa Naka tampak begitu senang dengan tingkahnya. Namun, dia memilih untuk tidak bertanya, membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Jad menahan tawanya saat melihat wajah kesal dari Sun. "Dia masih anak kecil, Sun. Tidak apa-apa," seru Elard, mencoba meredakan ketegangan. Sun menghela nafas panjang, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. "Tapi dia selalu saja..." katanya, sebelum terdiam, mengakui bahwa Naka memang hanya seorang anak kecil.

.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.

Keesokan harinya, Daniel dan Zergas melanjutkan perjalanan mereka. Namun, tiba-tiba Zergas mencegat Daniel yang sudah berada di depannya. "Apa kau pernah naik kucing?" tanya Zergas dengan serius. Daniel sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Hah? Naik kucing? Emang ada?" balas Daniel, memperlihatkan kebingungannya.

....

Saat itu, Zergas berubah menjadi kucing besar yang bisa dinaiki. Meskipun terkejut, Daniel masih merasa ragu. "Jadi, ini maksudmu kucing yang bisa dinaiki gitu?" kaget Daniel "Iya, naiklah," ucap Zergas sambil mengangguk. "Ayolah, Daniel. Aku tahu ini terasa aneh, tapi aku akan menjaga agar kamu tetap aman," kata Zergas dengan lembut, mencoba meyakinkan Daniel. Setelah beberapa saat ragu, Daniel memutuskan untuk melangkah maju. Dengan hati yang berdebar, dia naik ke punggung Zergas, maksutnya kucing besar ini.

Saat diperjalanan, Daniel merasa ingin bertanya sesuatu, "Kamu gak capek gendong aku terus?" tanyanya. Zergas menggeleng, "Gak, orang kalo aku udah jadi begini gak ngerasain apa-apa, gapapa." 

Hening, tiba-tiba "Udah nyampe," seru Zergas. Kini mereka berada di depan gerbang hutan yang sangat rindang, dihiasi dengan pepohonan besar dan tanaman berduri. Daniel melihat sekeliling dengan penuh kagum, terpesona oleh keindahan alam di sekitarnya. Dia merasa sedikit terkejut bahwa mereka telah tiba di tujuan mereka dengan begitu cepat. "Wow, betapa indahnya tempat ini," ucap Daniel dengan suara terkesan. Zergas mengangguk, "Ya, ini adalah Hutan Selatan, tempat yang paling cocok untuk mencari apa yang kamu butuhkan untuk perjalananmu selanjutnya."

"Kalau yang tadi? tempat kita bertemu namanya hutan apa?" tanyanya "Oh, kalau itu Hutan Barat, maka nya panas banget tadi pagi" jawab Zergas "Oh, hampir aja lupa, disini bahaya nya banget karena ada sarang ular banyak tapi plusnya disini apapun yang kamu cari bakal ketemu termasuk jalan pulangmu" lanjut zergas.

....

"Gas, boleh bawa bunga ini gak?" tanya Daniel sambi memperlihatkan setangkai bunga berwarna putih bercampur biru, "Silakan," jawab Zergas "Makasi." 

.·:¨¨ ≈☆≈ ¨¨:·.



Thursday, 2 May 2024

myth during the crescent moon (𝗪𝗔𝗥𝗡𝗜𝗡𝗚 𝗟𝗢𝗡𝗚 𝗧𝗘𝗞𝗦)


Tangisan bayi menggema keras di seluruh ruangan. Sudah sejak dua jam lalu bayi itu selalu menangis tiada hentinya. Namun bayi itu tiba-tiba tidak menangis kembali. Entah apa yang ia lihat. Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut dan tak lupa pandangan wajahnya melihatkan kerutan di bagian dahi. "Raja, kelompok tabib di kerajaan sudah berusaha sekuat mungkin. Dan memang seperti nya pangeran memang terkena kutukannya," orang yang di panggil Raja itu hanya dapat memijat dahinya "Panggilkan seluruh tabib di dunia untuk menyembuhkan kutukkannya, yang bisa menyembuhkannya akan mendapatkan upah." jelas Raja, "Tapi- baik Raja."

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Beberapa tahun telah berlalu. Kabar tentang kutukan sang pangeran kerajaan menyebar luas ke seluruh daerah dan beberapa kerajaan. Bahkan saat pangeran ingin masuk ke sekolah, dan ia ditolak mentah mentah. ''Pangeran Jaeyun selalu ditolak dimana mana Tuan Raja'' keluh salah satu pelayan yang membimbing Jaeyun ''Ini sudah ke 5x nya ia ditolak mentah mentah,'' Raja memijat dahi nya ''Tidak usah sekolahkan anak kutukan itu, lebih baik di sekolahkan di kerajaan saja'' lanjutnya, ''Baik Tuan'' lalu pelayan itu membungkukkan badannya dan pergi keluar dari ruangan.

''Tuan Raja sudah memutuskan untuk menyekolahkan pangeran di kerajaan saja'' ucap pelayan pribadinya, tak ada jawaban dari sang pangeran, "Pangeran? jika kau tidak suka, bisa katakan saja pada Raja'' lanjut pelayan itu. ''Tak usah Jungwon, aku akan menerimanya'' ucap Jaeyun sambi memegang sebuah patitur lagu. Jungwon aka pelayan pribadi Jaeyun menatap patitur lagu yang dipegang oleh Tuannya itu. ''Pangeran tak ingin mencoba memainkan biola seperti dahulu?" tanya Jungwon, Jaeyun mengelengkan kepala lemas ''Aku tak tertarik lagi,'' ia menghembuskan nafas panjang ''Tolong bawakan aku buah Jungwon, terima kasih'' lanjutnya, ''Baik, saya ijin keluar'' Jungwon membungkukkan badannya lalu segera pergi.
︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Jungwon keluar dari ruangan Jaeyun dengan langkah cepat, menuju dapur untuk mengambil buah yang diminta sang pangeran. Di dalam dapur, aroma rempah-rempah yang sedap memenuhi udara. Jungwon segera mengambil beberapa buah yang tersedia, memilih yang terbaik untuk Jaeyun. Kemudian, ia menatap keluar jendela, memperhatikan langit yang mulai senja.

Setelah mengumpulkan buah, Jungwon melangkah kembali menuju ruangan Jaeyun dengan hati yang berat. Ia merasa sedih melihat pangeran yang terisolasi seperti itu. Namun, sebagai seorang pelayan, ia harus menjalankan tugasnya dengan baik.

Ketika Jungwon tiba di ruangan Jaeyun, ia melihat pangeran duduk sendirian, terdiam di kursi dengan tatapan kosong. Tanpa mengganggu, Jungwon meletakkan mangkuk buah di atas meja kecil di depan Jaeyun. "Ini buah yang kau minta, Pangeran," ucap Jungwon dengan suara lembut.

Jaeyun menoleh perlahan ke arah Jungwon, memberikan senyuman kecil sebagai tanda terima kasih. "Terima kasih, Jungwon. Kamu selalu peduli padaku," kata Jaeyun dengan suara pelan. Jungwon tersenyum hangat. "Tidak ada yang perlu kau ucapkan, Pangeran. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai pelayanmu dengan sepenuh hati," jawabnya sambil membungkukkan badan.

"Bagaimana dengan buku-buku yang aku minta kemarin, Jungwon?" tanya Jaeyun tiba-tiba. Jungwon mengangguk. "Sudah aku siapkan di meja belajarmu, Pangeran. Apakah kau ingin aku membaca bersamamu?" Jaeyun menggeleng lembut. "Tidak usah, Jungwon. Aku ingin merenung sendiri sebentar. Terima kasih atas perhatianmu."

Jungwon mengangguk mengerti, lalu meninggalkan Jaeyun sendirian di dalam ruangan, meninggalkannya dengan buah dan buku-buku yang telah disiapkan. Sejenak, ruangan itu dipenuhi oleh kesunyian, hanya suara gemerisik angin yang menyusup masuk dari jendela terbuka. Jaeyun memandang keluar, berpikir tentang masa depannya yang penuh dengan kejutan.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Malam itu, meja makan di istana penuh dengan hidangan mewah yang disajikan dengan indah. Raja duduk di ujung meja dengan wajah yang serius, kadang-kadang melemparkan pandangan tajam ke arah Jaeyun. Di sampingnya, Ratu duduk dengan penuh kehangatan, matanya penuh dengan kelembutan ketika menatap Jaeyun.

Jaeyun duduk di antara kedua orangtuanya, mencoba mempertahankan senyumnya meskipun atmosfer di sekitarnya terasa tegang. Jungwon, setia di sampingnya, memberikan dukungan dengan kehadirannya yang tenang. Ratu memecah keheningan dengan suara lembutnya. "Jaeyun, bagaimana kabarmu hari ini?"

Jaeyun tersenyum pada bundanya dengan hangat. "Hari ini menyenangkan, Bunda. Jungwon mengajariku tentang sejarah kerajaan dan para leluhur kita." Raja mengangkat alisnya dengan skeptis. "Apakah belajar itu benar-benar akan membantumu, Jaeyun? Atau kau hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia?"

Jaeyun menahan kekecewaan di wajahnya, tetapi tetap menjaga sikap hormat. "Ayah, Jaeyun yakin bahwa pengetahuan tentang sejarah dan leluhur kita akan menjadi aset yang berharga bagi saya suatu hari nanti." Ratu menyela dengan lembut, "Tentu saja, Jaeyun. Dan kami akan selalu mendukungmu dalam usahamu untuk belajar dan berkembang."

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Setelah makan malam selesai, Jaeyun dan Jungwon meninggalkan ruang makan istana menuju kamar Jaeyun untuk beristirahat. Mereka berjalan melalui lorong-lorong yang terang benderang oleh lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit istana, langkah mereka terdengar di lantai marmer yang bersih.

"Bagaimana perasaanmu hari ini, Pangeran?" tanya Jungwon dengan lembut, menunjukkan perhatian yang tulus pada tuannya. Jaeyun menghela nafas, memikirkan semua yang telah terjadi hari ini. "Hari ini cukup berat, Jungwon. Tetapi aku merasa lega memiliki dirimu di sampingku," jawabnya dengan jujur, senyumnya mengembang sedikit.

Jungwon tersenyum hangat. "Saya selalu di sini untukmu, Pangeran. Apapun yang terjadi, saya akan selalu mendukungmu," katanya dengan penuh keyakinan. Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui lorong-lorong yang panjang, kadang-kadang bertemu dengan beberapa pelayan istana yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Tetapi pada saat itu, Jaeyun dan Jungwon terasa seperti dunia mereka sendiri, tempat mereka bisa berbagi beban dan kekhawatiran mereka tanpa takut dihakimi oleh pandangan orang lain.

Akhirnya, mereka mencapai kamar Jaeyun, sebuah ruangan yang luas dan megah dengan hiasan-hiasan yang mewah di setiap sudutnya. Jaeyun melemparkan dirinya ke atas tempat tidur dengan lelah, merasa lega bahwa ia akhirnya bisa beristirahat setelah hari yang melelahkan. Jungwon membantunya melepas jubahnya dan menyiapkan segala sesuatu untuk tidurnya. "Pangeran, apakah ada yang bisa saya lakukan untuk membuat Anda lebih nyaman?" tanya Jungwon dengan perhatian.

Jaeyun tersenyum lembut. "Tidak, Jungwon. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Terima kasih atas segalanya," jawabnya, matanya mulai terpejam karena kelelahan. Jungwon tersenyum puas, merasa lega bahwa ia telah membantu meringankan beban Jaeyun setidaknya untuk saat ini. Dengan perasaan lega, Jungwon meninggalkan kamar Jaeyun, meninggalkannya dalam kedamaian untuk tidur yang nyenyak, sementara ia sendiri kembali ke tugasnya sebagai pelayan setia sang pangeran.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Ratu aka Bunda Jaeyun memasuki kamar Jaeyun dengan lembut, hatinya penuh kasih pada putranya. Dengan lembut, ia membuka tirai, membiarkan cahaya pagi masuk ke dalam ruangan yang masih dipenuhi oleh suasana tidur yang tenang.

Jaeyun terbangun dengan perlahan, matanya terbuka perlahan saat terkena sinar matahari yang menyilaukan. Ia tersenyum melihat wajah ibunya yang lembut. "Selamat pagi, bunda," sapanya dengan lembut. Ratu tersenyum hangat. "Selamat pagi, Jaeyun. Sudah waktunya untuk bangun dan memulai hari dengan semangat." Ia membantu Jaeyun bangkit dari tempat tidur.

"Jungwon akan segera datang kemari dengan membawakanmu sarapan dan jubah untuk digunakan nanti saat pertemuan antar kerajaan" ucap Ratu, Jaeyun hanya menganggukkan kepala nya sebagai jawaban. 
︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Jungwon memasuki kamar Jaeyun dengan hati-hati, membawa jubah dan diikuti oleh meja kecil yang penuh dengan sarapan yang lezat. Ia meletakkan jubah di atas kursi dan meja sarapan di depan tempat tidur Jaeyun dengan lembut, memastikan semuanya tersusun dengan rapi. "Dihidangkan dengan hangat, seperti yang Pangeranku sukai," ucap Jungwon dengan lembut sambil tersenyum pada Jaeyun.

Jaeyun tersenyum, terima kasih pada Jungwon atas perhatiannya yang tulus. "Terima kasih, Jungwon. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan," kata Jaeyun dengan penuh penghargaan. Jungwon membungkukkan badannya dengan hormat. "Ini adalah tugas saya untuk memastikan kenyamanan dan kebahagiaan Pengeranku," jawabnya dengan rendah hati. Jaeyun duduk di tempat tidur, merasakan hangatnya jubah yang dibawakan oleh Jungwon. Ia mulai menikmati sarapan paginya dengan lahap, senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Saat pertemuan antar anggota kerajaan dimulai, Jaeyun dan Ratu bergabung dengan Raja di ruang pertemuan istana. Mereka duduk di sebelah Raja, siap mendengarkan pembahasan yang akan dilakukan. Anggota kerajaan lainnya mulai datang satu per satu, mereka duduk di sekitar meja bundar yang besar, siap untuk memulai diskusi. Suasana ruangan menjadi serius, semua anggota kerajaan terlihat fokus pada masalah yang akan dibahas.

Raja, sebagai pemimpin kerajaan, memimpin diskusi dengan memberikan arahan dan petunjuk kepada anggota kerajaan lainnya. Ia juga membuka ruang bagi anggota kerajaan lainnya untuk berbicara dan menyampaikan ide mereka. Jaeyun dan Ratu, meskipun bukan anggota kerajaan yang memiliki kekuasaan politik formal, juga memiliki peran penting dalam pertemuan tersebut. Mereka dapat memberikan sudut pandang unik mereka sebagai anggota keluarga kerajaan dan mungkin memiliki wawasan yang berbeda terkait dengan isu-isu tertentu.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Di perjalanan pulang, Jungwon bertanya kepada Jaeyun tentang bagaimana diskusi antar anggota kerajaan berlangsung. "Bagaimana pertemuan tadi, Pangeran? Apakah ada hal menarik yang dibahas?" tanya Jungwon dengan penuh minat. Jaeyun mengangguk, menyadari ketertarikan Jungwon pada urusan kerajaan. "Pertemuan berjalan dengan baik, Jungwon. Kami membahas berbagai isu yang penting untuk kebaikan kerajaan," jawab Jaeyun dengan serius.

Jungwon menatap Jaeyun dengan penuh perhatian. "Apakah ada keputusan penting yang diambil?" tanyanya lagi. Jaeyun berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ya, ada beberapa keputusan strategis yang diambil untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkuat kedudukan kerajaan." Jungwon mengangguk mengerti. "Bagus sekali, Pangeran. Saya yakin dengan kepemimpinan Tuan Raja, kerajaan akan terus maju ke depan," katanya dengan penuh keyakinan.

Saat sedang menikmati pemandangan dari balik jendela kereta kuda. Ia di gagal fokuskan dengan seseuatu. "Paman, bolehkah diberhentikan sebentar?" tanya Jaeyun ragu "Pangeran, mengapa ingin keretanya di berhentikan?" sela Jungwon, "Aku ingin memastikan sesuatu, won," jawab Jaeyun pada Jungwon. Setelah memperhentikan kereta. Jaeyun segera pergi kearah yang ingin ia tuju dan tak lupa Jungwon selalu bersamanya dibelakang. "Pangeran ingin memastikan apa?" tanya Jungwon sekali lagi, Jaeyun balik badan "Aku tadi melihat seperti seekor anakkan anjing," jawab Jaeyun.

Jungwon hanya mengangguk paham. Ia sudah paham dengan kebiasaan Pangeran muda ini, yang dari kecil selalu memunyai hewan peliharaan dan sangat menyayangi apapun hewan itu. "Pangeran apakah kita sudah sampai?" ujar Jungwon "Sepertinya sebentar lagi," jawabnya. Suara kilat menyambar suasana mereka berdua. Jaeyun cukup terkejut dengan suara kilat yang amat besar itu. "Jungwon, apakah kau ingat jalan pulang? sepertinya ini akan hujan" seru Jaeyun, Namun tak ada jawaban dari Jungwon. Jaeyun yang panik segera membalikkan bada untuk melihat. Nihil, itulah yang Jaeyun dapatkan sekarang. Tidak ada keberadaan Jungwon disana. Hal itu membuatnya takut setengah nyawanya.
︶꒦꒷♡꒷꒦︶

"Raja apakah itu kereta kuda milik Pangeran Jaeyun?" tanya pengendara kereta kuda milik Ratu dan Raja aka Bunda dan Ayah Jaeyun. Raja menfokuskan pandangannya pada kereta kuda yang di tunjuk oleh pengendara kereta kudanya "Ya! itu benar! itu milik Jaeyun Raja," panik Ratu, tak pakai lama Raja menyuruh pengemudi kereta kuda miliknya untuk mendekat kearah sana.

Raja dan Ratu turun untuk mendatangi kereta kuda tersebut. Namun nihil, tak ada siapapun disana kecuali kuda yang sedang memakan rumput rumput tinggi disitu. "Jaeyun!" panggil Ratu "Raja, bagaimana ini, Jaeyun tak dapat ditemukan" lanjut Ratu dengan nafas memburu. Raja tetap tenang tanpa ada rasa panik tertampang di wajahnya. Ratu menyeritkan dahinya bingung dengan reaksi yang di lontarkan oleh Raja.

Suara kaki datang kearah Ratu dan Raja. "Maafkan saya Tuanku, saya telah gagal menyelaksanakan perintah anda untuk menjaga Pangeran," bungkuk pengemudi kereta kuda milik Jaeyun. "Apa yang kau maksut? putraku hilang?" Ratu tak terima dengan omong kosong pengemudi kereta kuda itu "Katakan yang sebenarnya! Pangeran Jaeyun ada dimana!?" amarah Ratu telah memuncak, bagaimana tidak, anak semata wayangnya hilang ditelan bumi.

"Apakah pelayan pribadinya ikut dengannya?" tanya Raja pada pengemudi kereta kuda tersebut "Iya Rajaku," lalu ia menunjukkan arah ke barat "Saya melihat mereka pergi kearah sana, dan saya juga mendengar bahwa Pangeran ingin memastikan sesuatu dan ia menyuruh saya untuk berhenti." ujarnya.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

"Jungwon!" teriak Jaeyun. Hanya ada suara gema yang ia terima. Sekarang semakin malam, udara dingin telah menusuk kulit beningnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti mencari Jungwon dan duduk dibawah pohon rindang. Hanya ada suara jangkrik atau serigala yang sedang melolong nyaring. "Andai aku adalah seorang manusia serigala, mungkin di malam hari aku tak akan ketakutan, atau aku berubah menjadi malaikat," ucapnya sendiri.

Ditengah malam yang sunyi, Jaeyun mendengarkan suara langkah kaki mendekat pada dirinya. "Siapa di sana?" tanyanya dengan suara pelan, hatinya berdebar-debar karena tidak tahu siapa yang datang menghampirinya di tengah malam. Tak ada jawaban dari orang tersebut. Cahaya bulan yang samar-samar menerangi sosok yang mendekatinya. Jaeyun merasakan kegelisahan yang melonjak di dalam dirinya, tidak yakin apakah orang itu adalah teman atau musuh.

Saat Jaeyun melihat bayangan yang mendekatinya di kegelapan malam, perasaan keheranan menyelimutinya. Namun, ketika bayangan semakin jelas, Jaeyun dengan cepat mengenali wajah yang seharusnya tidak asing baginya. Ternyata, itu adalah Sunghoon, Pangeran dari kerajaan sebelah yang telah dikabarkan hilang selama beberapa waktu. "Ditakdirkan bertemu di malam yang gelap," gumam Jaeyun dalam hati, merasa campur aduk antara kejutan dan kelegaan melihat Sunghoon. Meskipun kabar hilangnya Sunghoon telah menjadi topik pembicaraan di kerajaan sekitar, Jaeyun tidak pernah mengharapkan bertemu dengannya di malam seperti ini. "Pangeran Sunghoon," sapa Jaeyun dengan suara hangat, ekspresinya penuh dengan kekaguman dan rasa simpati atas nasib yang menimpa Sunghoon.
︶꒦꒷♡꒷꒦︶

"Sudah cukup lama aku tinggal di sini sejak kabar hilangku tersebar," kata Sunghoon kepada Jaeyun, menjelaskan sedikit tentang situasinya. "Tapi tempat ini aman, setidaknya sementara. Aku ingin menjaga diriku sendiri, tanpa harus bergantung pada pengawal atau keramaian istana." Jaeyun mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa simpati terhadap keadaan Sunghoon. "Aku mengerti," ujarnya dengan lembut. "Aku senang bisa membantumu. Dan, tentu saja, aku akan tinggal bersamamu untuk sementara waktu. Kita akan saling menjaga satu sama lain." Sunghoon tersenyum menghargai. "Terima kasih, Jaeyun. Aku merasa lega karena kamu di sini bersamaku." Dengan kehadiran Jaeyun di sampingnya, Sunghoon merasa lebih kuat dan lebih siap menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.

Sunghoon mempersilahkan Jaeyun untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruang tamu rumah tua itu. Sunghoon kemudian pergi ke dapur kecil di rumah tua itu untuk menyiapkan minuman coklat panas untuk mereka berdua. Suara gemerisik air dan aroma coklat yang harum mengisi udara, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman di tengah malam yang dingin.

"Silakan nikmati coklat panas ini," ucap Sunghoon "Terima kasih," jawab Jaeyun, ia mengambil cangkir putih yang terisikan oleh coklat panas. "Maaf menanyakan hal ini, mengapa kau bisa di tengah hutan sendiri?'' tanya Sunghoon dengan menatap Jaeyun "Aku terpisah dengan pelayan pribadiku, Jungwon," Jaeyun yang awalnya meminum coklat panas itu menunduk, sebuah sentuhan dapat dirasakan oleh Jaeyun di bagian bahu. "Aku mengerti maksutmu, mari besok kita cari dia dan aku akan memulangkan dirimu." tegas Sunghoon, Jaeyun setuju dengan rencananya dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Di dalam ruangan istana yang mewah, suasana menjadi tegang ketika Ratu dan Raja bertengkar dengan penuh emosi. Ratu, dengan ekspresi yang dipenuhi kekhawatiran dan amarah, menyalahkan Raja atas hilangnya Jaeyun. "Sim! Tega sekali dirimu mengasingkan Jaeyun?" bentak Ratu dengan suara yang gemetar karena kekhawatiran. "Kamu tahu betapa berharganya ia bagi kita, bagaimana bisa kamu membiarkan ini terjadi?"

Raja Sim, dengan wajah yang tegang dan penuh dengan keputusasaan, merasa terpojok oleh amarah Ratu. Namun, ia tetap tegar dalam pendiriannya. "Karena kerajaanku tak butuh raja selanjutnya yang terkutuk!" serunya dengan suara yang penuh dengan ketegasan. Keduanya saling menatap, atmosfer di ruangan itu dipenuhi dengan ketegangan dan keputusasaan. Konflik ini mengungkapkan perbedaan pandangan dan nilai antara Ratu dan Raja, serta ketidakpastian tentang masa depan kerajaan mereka.

Tersadar akan konsekuensi dari keputusannya untuk menuruti perintah Raja, Jungwon merasa terbebani oleh rasa penyesalan yang mendalam. Ia menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan, merenungkan keputusannya yang telah membawa dampak buruk bagi Jaeyun. "Maafkan aku, Pangeran Jaeyun," gumam Jungwon dalam hati, merasa bersalah karena telah menjadi bagian dari perintah yang menyebabkan Jaeyun terasingkan. Ia menyesali keputusannya untuk patuh pada perintah Raja tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi Jaeyun.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Di pagi yang cerah, Sunghoon dan Jaeyun memutuskan untuk pergi ke sungai terdekat untuk membersihkan diri mereka setelah semalam yang panjang. Mereka berdua berjalan melalui hutan yang teduh, menikmati udara segar dan sinar matahari pagi yang menyapa mereka.

Sesampainya di sungai, air yang mengalir jernih dan sejuk terlihat mengundang. Sunghoon dan Jaeyun melepaskan pakaian mereka dan merendam diri di air sungai yang segar. "Jaeyun, apakah kau tahu tentang kutukan dari leluhur?" tanya Sunghoon dengan rasa ingin tahu yang jelas terpancar dari matanya. "Aku tahu sedikit," jawab Jaeyun "Aku salah satunya yang terkena kutukan itu" ucapan Sunghoon melemah namun masih bisa terdengar oleh Jaeyun. Dengan reflek Jaeyun memberi jarak lebih antara dia dan Sunghoon. "Tenang saja Jaeyun, aku tak berbahaya," ia membuang nafas "Sejujurnya aku bukan hilang, namun aku diasingkan oleh kerajaanku sendiri" ucapnya.

Jaeyun yang masih terkejut itu semakin terkejut dengan ungkapan yang diucapkan barusan oleh Sunghoon. "Kutukan itu berasil menguasai diriku saat malam bulan sabit." jelas Sunghoon. Hening, hanya satu kata bisa menggambarkan suasana mereka sekarang. "Jadi maksutmu," gagap Jaeyun "Kau terkena kutukan yang sama denganku, maka dari itu kau dibuang kemari, karena Ayahmu maksutku Raja Sim paham kalau kau terkena kutukan tersebut." Jaeyun yang masih tak percaya hal itu, ia menanyakan lagi kepada Sunghoon "umurmu berapa? dan bagaimana aku bisa terlahir dengan kutukan itu?" Sunghoon yang semula melihat pemandangan didepannya melirik Jaeyun "Karena kau terlahir di malam bulan sabit,"

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Sunghoon dan Jaeyun berhenti di tepi bangunan kerajaan milik keluarga Jaeyun, dan Sunghoon mengucapkan, "Sudah sampai." Ada jeda sebentar dalam percakapan mereka, yang memungkinkan seorang prajurit yang sedang berjaga melihat interaksi mereka dari kejauhan.

Prajurit itu awalnya mengira Sunghoon dan Jaeyun adalah seorang penyusup yang mencoba mendekati bangunan kerajaan secara ilegal. Namun, ketika ia mendekati mereka untuk mengejar, ia dengan jelas melihat bahwa salah satunya adalah Pangeran Jaeyun. Kehadiran Pangeran membuatnya bingung dan terkejut.

Dengan hormat, prajurit itu mendekati Jaeyun dan Sunghoon, lalu membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan. "Permisi, Pangeran Jaeyun," ucapnya dengan suara yang penuh dengan kepatuhan dan penghargaan. "Saya mohon izin untuk bertanya, apa yang membawa Anda ke sini, dan mengapa Anda bersama pria yang tampaknya tidak dikenal?" Jaeyun mengangguk, menghargai kesopanan dan kewaspadaan prajurit itu. "Kami pulang ke kerajaan," jawabnya dengan sopan, mencoba menjelaskan situasi tanpa memunculkan kecurigaan lebih lanjut. "Kami berdua melakukan perjalanan bersama untuk beberapa urusan pribadi, dan Pangeran Sunghoon di sini adalah teman yang memberi saya bantuan."

Sunghoon, meskipun sedikit terkejut dengan pertanyaan prajurit itu, tetap tenang dan menatap prajurit dengan sikap ramah. "Maafkan kami atas kebingungan ini," katanya dengan suara yang hangat. "Saya adalah Pangeran Sunghoon dari kerajaan sebelah. Saya dan Pangeran Jaeyun memiliki kepentingan yang sama dalam perjalanan ini, dan saya senang bisa membantu beliau."

Prajurit itu mengangguk mengerti, meskipun masih ada keraguan yang terpancar dari tatapannya. Namun, setelah mendengar penjelasan dari Jaeyun dan Sunghoon, ia merasa sedikit lega. "Saya memahami, Pangeran Jaeyun dan Pangeran Sunghoon," ucapnya dengan suara yang penuh dengan rasa hormat. "Terima kasih atas penjelasannya. Apakah saya bisa membantu Anda dengan sesuatu lagi?" Jaeyun dan Sunghoon menggeleng, menyatakan bahwa mereka sudah cukup diurus.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

"Lapor," jawab salah satu prajurit "Patroli kalian di hari ini sudah sampai sini," ucap kepala prajurit disana, reflek semua bawahannya itu membungkukkan badan berartian setuju. Namun ada salah satu prajurit yang tak membungkukkan dirinya seperti kawannya yang lain, "Hei, prajurit magang" tegas kepala prajurit tersebut "Siap," jawabnya "Kalau tidak salah kau bernama Riki ya, prajurit magang" anak yang dipanggil Riki tersebut mengangguk "Ada apa dengan dirimu? mengapa tak menghormati diriku seperti yang lainnya, hah!" keras kepala prajurit itu.

"Riki, segera membungkuk dan meminta maaf lah," ucap prajurit disebelahnya, Riki menghiraukannya. "Dasar bedebah cilik" umpatnya. "Lapor, pak" lantang Riki "Saya ingin melaporkan bahwa Pangeran Jaeyun telah kembali bersama orang asing yang bernama Pangeran Sunghoon" ucap Riki. Kepala prajurit menatap Riki dengan tatapan yang penuh dengan ketidakpuasan. "Kamu berani sekali menyebut nama Pangeran Jaeyun dengan begitu sembrono," katanya dengan suara yang keras, menyiratkan ketidakpuasan yang dalam.

Kepala prajurit menghela nafas dengan frustrasi, tetapi akhirnya mengangguk. "Baiklah, Anda dapat pergi. Saya akan menyelidiki laporan ini lebih lanjut," kata kepala prajurit dengan suara yang agak reda. Riki memberikan salam hormat dan meninggalkan tempat itu dengan langkah tegap. Meskipun ia menyadari bahwa tindakannya mungkin akan berdampak pada dirinya, ia tetap yakin bahwa ia telah melakukan yang benar dengan melaporkan apa yang ia lihat.

Riki hampir menutup pintu ruangan pertemuan antar prajurit ketika ia tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran Jungwon, pelayan pribadi Pangeran Jaeyun. Matanya membulat kaget dan ia sedikit terhenti dalam gerakannya. Jungwon berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang serius, memancarkan aura keteguhan dan keputusan. "Prajurit Riki," ucapnya dengan suara yang tenang namun tegas. "Saya perlu berbicara dengan Anda sebentar mengenai laporan yang Anda sampaikan." Riki menatap Jungwon dengan penuh keheranan, tidak terbiasa dengan intervensi dari seorang pelayan dalam urusan militer. Namun, ia tidak berani menolak permintaan Jungwon karena ia tahu bahwa kedudukan Jungwon sebagai pelayan pribadi Pangeran Jaeyun memberinya otoritas yang tak terbantahkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan Pangeran.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶

Kepala prajurit memasuki ruang kerja Raja Sim dengan langkah mantap. Raja Sim duduk di singgasananya, wajahnya menunjukkan ekspresi yang serius dan tegas. Begitu kepala prajurit mengucapkan salam hormat, Raja Sim mengangguk singkat sebagai tanda persetujuan untuk melanjutkan. "Demi apa kau mengganggu ketenangan ini?" tanya Raja Sim dengan suara yang tenang namun penuh dengan otoritas. Kepala prajurit menatap Raja Sim dengan serius. "Saya datang untuk melaporkan sesuatu yang penting, Raja," jawabnya dengan tegas. "Prajurit magang, Riki, telah melaporkan bahwa Pangeran Jaeyun kembali ke kerajaan bersama seorang pria yang bernama Pangeran Sunghoon." Raja Sim mendengarkan dengan seksama, namun ekspresinya tetap tak berubah. Namun, saat nama "Pangeran Sunghoon" disebutkan, ada kilatan kejutan singkat di matanya. Meskipun ia mencoba untuk menyembunyikan reaksinya, kepala prajurit dapat melihat bahwa Raja Sim tidak asing dengan nama tersebut. "Dapatkah kau memberikan deskripsi lebih lanjut tentang pria itu?" tanya Raja Sim dengan suara yang tenang namun penuh perhatian. Kepala prajurit memberikan deskripsi singkat tentang Pangeran Sunghoon, menjelaskan bahwa ia adalah pangeran dari kerajaan tetangga yang dikabarkan diasingkan karena kutukan yang diduga diturunkan dari leluhurnya. Raja Sim mendengarkan dengan serius, merenungkan informasi yang baru saja ia terima. Setelah mendengarkan laporan tersebut, Raja Sim berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan perintah. "Lanjutkan penyelidikanmu terhadap kedatangan Pangeran Jaeyun dan Pangeran Sunghoon. Beritahukan saya segera jika ada perkembangan lebih lanjut," ucapnya dengan suara yang mantap. Kepala prajurit memberikan salam hormat dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Raja Sim dalam pikirannya yang dalam.

Saat kepala prajurit pergi, suasana ruangan menjadi hening. Namun, tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan dua sosok muncul di ambang pintu: Pangeran Jaeyun dan Pangeran Sunghoon. Kehadiran mereka mengundang pandangan kaget dari Raja Sim, yang tidak mengharapkan kedatangan mereka pada saat itu.

Saat Pangeran Jaeyun dan Pangeran Sunghoon tiba-tiba muncul di ruangan, Raja Sim berpura-pura kaget. Ia mengalihkan pandangannya sebentar seolah tidak mengenali mereka, lalu dengan cepat bergerak mendekati Jaeyun dan memeluknya. Jaeyun terkejut dengan reaksi ayahnya yang tiba-tiba ini, sebab sebelumnya Raja Sim selalu menolak mentah-mentahnya. Namun, dalam kejutan itu, ia merasa hangat oleh pelukan ayahnya. Sementara itu, Sunghoon yang melihat adegan tersebut merasa ada yang tidak beres. Ia merasa ada ketidakcocokan antara sikap Raja Sim yang pura-pura kaget dengan perilaku hangatnya terhadap Jaeyun. Meskipun begitu, wajah Raja Sim menarik perhatiannya, membuatnya merasa seperti pernah melihatnya sebelumnya. Raja Sim melepaskan pelukannya pada Jaeyun dan menatapnya dengan tulus. "Jaeyun, Ayah sangat merindukanmu," ucapnya dengan suara yang penuh emosi. "Ayah senang kau kembali." Jaeyun tersenyum ragu-ragu, masih terkejut dengan sikap ayahnya yang baru. Namun, ia merasa hangat oleh kata-kata dan pelukan Raja Sim. "Aku juga merindukanmu, Ayah," jawabnya dengan lirih. Sunghoon melihat interaksi antara Jaeyun dan Raja Sim dengan rasa haru. Meskipun ia masih bingung dengan sikap pura-pura kaget Raja Sim, ia merasa senang melihat hubungan hangat antara ayah dan anak itu.

︶꒦꒷♡꒷꒦︶


-qfs

Monday, 29 April 2024

My Own Pace

  

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

"Cie mobil baru ni" ucap seseorang dari balik jendela mobil milikku. "Mantap, kan? sudah lama gw nunggu ni mobil buat upgrade." Sunoo tersenyum bangga. "Besok lo gak bolos kampus lagi kan?" seru pemuda yang masih setia di balik jendela, "Iya, kalau gw bolos lagi mah bokap gw marah, terus jajan gw di ilangi." ucap Sunoo sambil menekan nekan benda pipih di tanganku.

"Kasian lo. Nanti malam ada balap mobil" serunya. "Sumpah? udah lama gw gak balapan, hadiah nya apaan?" tanya Sunoo. "Katanya sih hadiahnya nyampe satu" jawabnya. "Suer lu won? yang bener aja, masa iya sampe satu" seru Sunoo. 

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

"Noo, bangun" ucap seseorang sambil menggoyangkan bahu Sunoo. "Sorry sorry won, gw ketiduran", Sunoo tersenyum dengan menggosok-gosok mata. "Mimpiin apa? sampe tu liur jatuh jatuh", kata Jungwon. Sunoo reflek mengusap bagian mulutnya. Jungwon menggeleng gelengkan kepalanya, "Nanti lo gw sharelock lokasi balapnya.""Okeh, siap! gw pasti dateng dan menangin" Sunoo memberi hormat pada Jungwon seolah olah ia adalah seorang komandan dan Sunoo adalah juniornya.

Jungwon memberikan Sunoo susu strawberry, lalu ia segera membenarkan posisi duduknya begitu pula dengan Sunoo. "Gw cuman kepo sih, kemarin gw liat lo di tembak cewe ya? lo terima apa kaga?" panjang lebar Jungwon.

Sunoo menoleh sekilas ke arah Jungwon lalu membuang muka malas. "Harusnya muka gw udah tertampang nolak, tapi tetep aja lo nanya pantes aja cita citanya jadi reporter" ketus Sunoo. Jungwon bingung, dalam hati Jungwon 'Ni anak moodnya cepet banget, kalah cewe ma dia ni.' "Udah gw tolak mentah mentah kemarin" Sunoo membuang nafas panjang "Cape banget gw di tembakin cewe terus, gw takut nanti valentine" lanjut Sunoo sambil menyeruput susu strawberry.

Jungwon menggaruk tenguknya yang tak gatal lalu berseru "Yaudah, gimana kalo lo pas valentine gak usah masuk" ucap Jungwon berbinar "Kalo lo gak masuk, gw juga gak masuk. Sapa tau kita bisa ke bengkel bokap gw buat sempurnain mobil gw" lanjut Jungwon dan di lanjutkan dengan menaruh dahu nya di tangannya.

Aku segera menutup telingaku dengan earphone dan menyetel lagu kesukaanku. Jungwon kesal dengan hal itu, ia merasa salah lagi bila sikap Sunoo seperti ini. "Gak tau ya gw, nanti kalo ada dosen masuk gw kabari" ucap Jungwon. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

"Aku pul—" baru saja Sunoo ingin menutup pintu rumah namun tak jadi karena pandangan Mama dan Papa di ruang tengah. Sunoo keringat dingin dengan tatapan mereka. Tidak ada dingin AC ataupun angin dari jendela, Sunoo yang tak tau kenapa langsung mendudukkan diri di sofa depan Mama dan Papa.

"Mama dapat info dari dosen, kamu sering bolos ya?" tanya mamaku "Papa juga denger dari Ni-Ki si anak jepang itu, kalo kamu nanti malem mau balapan mobilmu itu" ucap. Coba kenapa kalo orang tua itu banyak koneksinya kan jadi gak leluasa ni hidup..

Sunoo cuman diem. Gak tau mau jawab apa, kalau misalnya mereka udah tau kenapa bertanya sih? kan rasanya kayak mojokin anak semata wayangnya ini. "Papa sama mama ngomong sama kamu loh, kok gak di jawab?" tanya papa. Sunoo punya ide. "Boong semua itu, soal bolos, Aku ada urusan sama dosen yang beda terus aku lupa ijin. Nah si Jungwon udah aku titipin ijin buat dosen yang ngajar jam itu eh dia lupa mana pas itu gak bawa hp. Kalo masalah balapan mobil itu, Papa salah artiin. Aslinya mau balapan di PS5 itu, masa papa gak kenal kek apa itu bokemnya Ni-Ki" jawab Sunoo panjang lebar.

Aku segera duduk di kursi depan komputer dan menyalakan komputerku. "Gongle mana ni" resahku, "nah ini" akhirnya aku menemukannya. (Suara nada dering telepon). Tetap saja Sunoo tidak peduli mau ada petir apa telepon, Sunoo tetap fokus mantangi akun Gongle. Takut, karena sang Ayah dapat mengatahui password komputernya. Bahkan Sunoo rela membuang waktunya demi mengecek komputer yang bisa dihitung 5x saking ragunya.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

"Aman," Sunoo meregangkan tangan dan jariku, "nah sekarang saatnya mandi." dengan segera Sunoo memasuki kamar mandi dan menutup kembali kamar mandi. Saat selesai mandi. Sunoo mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu mengelap muka nya dengan handuk itu. (Tok tok). Sunoo menoleh kearah pintu lalu jalan ke pintu untuk membukanya. "Nak, hari ini kamu tidak boleh keluar. Keputusan ini tidak bisa di gugat, ya." Sunoo terkejut bukan main, ngapain coba?

"Ma? ngapain sampai gitu coba.." Sunoo melipat tangannya di depan dada. "Sunoo. Papa kalau sudah dapat berita seperti itu, Papa langsung bertindak karena Papamu paham dengan sifatmu. Jangan berpikiran kalau Papamu itu jahat, ya." Ucap Mama Sunoo.

Sunoo merasa frustasi tapi ia memiliki ide yang tidak pernah habis. "Oke Ma, aku bakal dirumah sampe besok pagi. Gak bakal pergi kemana mana" seru Sunoo. Mama Sunoo mengusap bahu sang anak, "Maafin Mama ya kalo nyakitin hatimu. Semangat!"

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Jungwon😊
Heiii! 
gw kirim serloknya ya!55
📍Location 

Sunoo membuang nafas panjang. Pikirannya bingung, antara menuruti kedua orang tuanya atau mengikuti ide nya. 

Jungwon😊
won..
kayaknya kali ini gw bakal ikuti kata orang tua gw deh... :)

Me
lu yang bener aja!
udah gw daftarin, masa lo malah..
auk ah, capek gw

"Wadoh, Jungwon ngambek..." Sunoo menaruh hpnya di sebelahnya "sulit ini kalo mau bujuk Jungwon." lanjutnya.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

"Won mana temen lo itu? cemen ya kok gak berani nunjukin muka" remeh sang lawan. 'Elu ya Sun, gw tandaiin loe' batin Jungwon, "Gak dia gak secemen itu, ngawur aja lo! temen gw bentar lagi dateng." Jawab Jungwon. Seseorang datang dari arah pintu masuk ke Jungwon dan menepuk bahunya.

Jungwon menoleh ke belakang. "Nah akhirnya lo sampe disini. Rumah lo sejauh apa si? lama kali" cerewet Jungwon. "Sorry Won, rumah gw gak sejauh itu kok, cuman tadi kena macet aja." senyumnya. "Serah lo Jay, lagi bm gw, urusin tu lawan lo" Jungwon pergi dari arena balap itu.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Brum..brum.. Suara strarter mobil yang ingin memulai balap terdengar. "Jay! lo harus menang!" seru Jungwon dari kursi penonton untuk Jay yang berada di dalam mobilnya, Jay menurunkan kaca mobilnya dan mengacungkan jempolnya untuk Jungwon.

Dengan pdnya Jay memimpin jalannan, tanpa ia sadari, sang lawan sudah memiliki rencana jahat untuk melawan dan memenangkan pertandingan ini. Ditengah perjalanan Jay merasakan ada hal yang aneh di mobilnya, ia mencoba untuk rem, namun nihil. Hal tersebut tidak dapat di lakukan. Segera Jay mengambil hp yang berada di sakunya untuk menelepon Jungwon.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

"Ada apa Jay?" tanya di sebrang. "Jungwon! tolong aku, sepertinya mobilku mengalami rem blong" panik Jay. Jungwon membulatkan matanya "APA?" Ia reflek berdiri dari kursi penonton, dan hal itu membuat yang lain memusatkan pandangan pada Jungwon. Jungwon berinisiatif untuk melabrak montir yang membenarkan mobil milik Jay, namun hal itu diurungkan karena ia berfirasat bahwa bukan sang montir yang menyalah gunakan.

Jungwon menghela nafas lega karena memutuskan untuk tidak melabrak montir tersebut. Dia memilih untuk mengevaluasi situasi dengan lebih hati-hati sebelum mengambil tindakan apa pun. Dengan hati yang tenang, dia memutuskan untuk mencari bukti lebih lanjut sebelum membuat kesimpulan.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Jay masih dalam kepanikan karena rem mobilnya blong dan tiba-tiba, setir yang ia kuasai meleset. Dia dengan cepat mencoba untuk mempertahankan kendali atas mobilnya, namun situasinya semakin sulit. 

Dalam keadaan panik, Jay mencoba untuk mengendalikan mobilnya lagi, tetapi tiba-tiba dia melihat sebuah truk lewat dan berhenti di tengah jalan. Ini menambah kerumitan situasi. Jay merasa semakin terjepit dalam masalah yang membingungkan ini.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Jungwon tetap tegar menunggu di tempatnya, memantau situasi dengan hati yang tegang. Dia merasa khawatir untuk Jay, tapi pada saat yang sama, dia percaya pada kemampuan Jay untuk mengatasi situasi sulit ini. Dengan penuh kepercayaan, Jungwon berdoa agar Jay kembali dengan selamat dan segera. Dia siap memberikan dukungan penuh saat Jay kembali, siap membantu menyelesaikan masalah apapun yang mereka hadapi bersama.

Jungwon merasa lega melihat mobil lawan datang dengan selamat, tetapi kekhawatirannya terhadap Jay semakin meningkat karena mobil Jay masih belum terlihat. Dengan hati yang berdebar, dia mencoba untuk tetap tenang dan memperhatikan setiap gerakan di sekitarnya, berharap agar Jay segera muncul dengan selamat. 

Para penonton berbondong-bondong menuju ke arah mobil lawan untuk memeriahkan kemenangannya, sementara Jungwon mencoba menghubungi Jay dengan ponselnya. Dengan ketegangan yang memuncak, dia menunggu dengan harapan agar Jay segera menjawab panggilannya.

Saat tiba tiba ada yang mengangkat telepon tersebut dari sebrang, Jungwon segera menjawabnya dan berharap itu adalah kabar yang baik namun hal itu menjadi kebalikkannya. "Halo, Jay bagaimana keadaanmu disana?" Jungwon berkata dengan panik. "Halo, dengan siapa dari korban? saya menemui nya di tengah jalanan dengan berlumuran-" Jungwon dengan segera memotong pembicaraanny, "Saya teman dari dia, bisa beritahu dia berada di rumah sakit mana?". "Dia sudah dibawa ke rumah sakit XX, dan ini hpnya tertinggal dilokasi." 

Jungwon langsung bergegas ke rumah sakit yang diomongi oleh orang asing tersebut. 

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Dengan hati yang berdebar-debar, Jungwon akhirnya tiba di rumah sakit yang disebutkan orang asing tadi. Dia bergegas masuk ke dalam gedung rumah sakit, mencari-cari kamar di mana Jay mungkin berada. Saat akhirnya menemukan kamar yang tepat, dia berdiri di depan pintu dengan perasaan campur aduk antara cemas dan lega.

Jungwon mengetuk pintu dengan lembut dan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Jay terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat dan tampak lemah. Dengan hati yang berat, Jungwon mendekatinya dengan langkah perlahan. 

"Jay, lo gapapakan?" tanyanya dengan suara yang penuh perhatian.

Jay menoleh ke arah Jungwon dengan senyum lemah. "Gw gapapa. Cuman sedikit terkilir, tapi dokter bilang gw bakal pulih secepatnya," jawabnya dengan suara yang agak serak. Jungwon hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Btw lo liat hp gw gak? tadi pas kecelakaan hp gw ilang tiba tiba." tanya Jay. "OH! tentang hp lo, belom gw ambil dari orang asing itu" jawab Jungwon.

Jay mendelik seram pada Jungwon, "Andai kaki gw gak terkilir, keknya lo udah ada di venus sekarang" ucap Jay. "Ya maaf dong, nanti gw ambil, kayaknya orangnya si belom pulang" ucap Jungwon sambil terkekeh.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Paginya di kampus, Sunoo dan Jungwon duduk bersama di bangku, menikmati cuaca cerah sambil menunggu kuliah dimulai. Mereka berbincang ringan tentang rencana hari ini dan kejadian semalam. 

Sunoo tampak lebih tenang setelah kejadian semalam, sementara Jungwon terlihat cemas memikirkan kondisi Jay. "Gimana kabar Jay?" tanya Sunoo tiba-tiba, mengalihkan perhatian Jungwon.

"Dia baik-baik aja. Cuman terkilir sedikit, tapi dokter bilang dia bakal pulih cepat," jawab Jungwon, mencoba menenangkan dirinya sendiri dan Sunoo. "Tapi HP-nya hilang, dan aku harus balik lagi buat ambil dari orang yang nemuin." Sunoo mengangguk. "Kalo gitu nanti gw temenin, biar cepet."

Jungwon tersenyum, merasa lega karena punya teman yang selalu siap membantu. "Thanks, Sunoo. Lo emang selalu bisa diandalkan." Kuliah pun dimulai, dan mereka berdua masuk ke kelas dengan pikiran yang lebih tenang, siap menghadapi hari yang baru dengan semangat dan kepercayaan diri.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──



-qfs

Monday, 25 March 2024

Perahu Kertas

 


✦ Tahun 2006 ✿

Heeseung dan Yeon Ji adalah dua anak yang tinggal di sebuah kota kecil yang tersembunyi di pojok kota besar. Heeseung, dengan sifatnya yang diam namun seru dan ramah, berbeda dengan Yeon Ji yang penuh energi dan tidak bisa diam, selalu mencari kesenangan di sekitarnya.

Suatu hari, mereka memutuskan untuk bermain di pesisir pantai yang dekat dengan rumah nenek Yeon Ji. Duduk di tepi pantai, mereka memandang keindahan alam yang diciptakan oleh Tuhan dengan penuh kagum. Tiba-tiba, dalam momen yang tenang itu, Yeon Ji memutuskan untuk meminta sebuah janji kepada Heeseung.

"Dengarkan, Heeseung," ucap Yeon Ji dengan antusias, matanya berbinar-binar. "Kita harus berjanji satu sama lain. Janji bahwa kita akan tetap menjadi sahabat, tidak peduli seberapa jauh waktu dan jarak memisahkan kita. Kita akan selalu saling mendukung, seperti yang kita lakukan hari ini di tepi pantai ini."

Heeseung tersenyum, menatap Yeon Ji dengan penuh kehangatan. "Tentu saja, Yeon Ji. Kita akan menjadi sahabat selamanya. Janji itu akan kupegang erat, seperti janji kita hari ini di bawah langit yang luas dan lautan yang tak terbatas ini."

Dengan senyum lega, mereka menyatukan kelingking satu sama lain dengan tawa.Beberapa saat kemudian, setelah berjanji satu sama lain, Heeseung mendapatkan ide untuk membuat perahu yang terbuat dari kertas.

Yeon ji yang melihat Heeseung tiba tiba datang kembali dari rumah neneknya dengan membawa kertas dan pensil. ''Heeseung, apa yang akan kau buat?'' seru Yeon ji antusias, ''Agar lautan paham dengan janji kita, mari kita membuat perahu kertas'' jawab Heeseung.

Akhirnya mereka telah membuat dan menyelesaikan perahu kertas tersebut, dan tak lupa di pertengahan membuat perahu kertas itu, mereka menuliskan pesan dan permohonan pada kertas tersebut menggunakan pensil.

''Yeon ji, mari kita lepas perahu kertas ini ke laut'' ajak Heeseung dan mendapatkan anggukkan antusias Yeon ji.

Mereka mendekatkan diri ke arah dekat ombak laut. Mereka mencari tempat nyaman untuk melepaskan perahu kertas buatan mereka itu. Beberapa menit mereka mencari akhirnya menemukannya. Mereka mulai melepaskan perahu kertas itu ke lautan luas berwarna biru itu.

Heeseung memandang perahu buatannya tersebut dengan wajah yang berseri. ''Apa yang kau tulis disana?'' tanya Yeon ji penasaran, ''Rahasia, mungkin kita dapat mengetahuinya saat kita sudah lebih dewasa?'' disela sela ucapan Heeseung ia juga melengkapinya dengan tawa indahnya.

✦ Tahun 2007 ✿

Satu tahun telah berlalu sejak hari mereka membuat janji di tepi pantai. Heeseung dan Yeon Ji masih menjadi sahabat yang tak terpisahkan di kota kecil mereka. Pagi itu, Heeseung dengan senyum ramahnya mengajak Yeon Ji untuk pergi ke pusat kota kecil tersebut untuk membeli bunga.

Yeon Ji, dengan semangatnya yang khas, dengan cepat menyetujui ajakan Heeseung. "Tentu saja, Heeseung! Aku sangat senang bisa pergi bersamamu," serunya dengan sukacita.

Bersama-sama, mereka berjalan melalui jalan-jalan kota kecil yang dikenal mereka dengan baik. Heeseung menatap Yeon Ji dengan penuh kehangatan, senyumnya tidak pernah lekang meski waktu telah berlalu. Mereka tiba di sebuah toko bunga di pusat kota, di mana mereka berdua berhenti sejenak untuk memilih bunga yang indah.

beberapa saat kemudian. Heeseung tersenyum lebar saat ia menemukan bunga kesukaannya, sebuah gerbera yang cantik dan mempesona di antara deretan bunga-bunga lainnya. Dengan bersemangat, ia memanggil Yeon Ji yang sedang melihat-lihat bunga lain di sekitar toko.

"Yeon Ji, lihat ini!" seru Heeseung dengan antusias, sambil mengangkat bunga gerbera yang ditemukannya. "Aku yakin ini akan cocok dengan keceriaanmu.

Yeon Ji berbalik dengan cepat, wajahnya berseri-seri melihat bunga yang ditunjukkan Heeseung. "Wow, itu sangat cantik!" serunya dengan senyum yang tak kalah cerah dari bunga itu sendiri.

Heeseung menawarkan bunga gerbera itu pada Yeon Ji dengan penuh semangat. "Ayo, bagaimana kalau kita membelinya? Bunga ini benar-benar seperti kamu, cerah dan menyenangkan!"

✦ Tahun 2010 ✿

Tiga tahun telah berlalu sejak saat Heeseung dan Yeon Ji membeli bunga gerbera bersama di toko bunga di kota kecil mereka. Kini, sebuah perubahan besar sedang menanti Heeseung. Dia mendapat tawaran untuk melanjutkan sekolah di kota besar, tepat di pusatnya, sebuah kesempatan yang luar biasa untuk mengembangkan potensinya.

Ketika Heeseung memberitahu Yeon Ji tentang kesempatan ini, senyum kebahagiaan terpancar di wajah Yeon Ji. Meskipun di dalam hatinya sedikit sedih akan perpisahan yang akan terjadi, namun kebahagiaan untuk sahabatnya jauh lebih besar. Dia tahu betapa besar impian Heeseung untuk melanjutkan pendidikan di kota besar yang selalu diceritakan dan diimpikan oleh Heeseung.

Dengan tulus, Yeon Ji mendukung keputusan Heeseung. "Aku sangat senang untukmu, Heeseung! Ini adalah kesempatan yang luar biasa, dan aku tahu kamu akan mengambilnya dengan baik," ucap Yeon Ji dengan penuh keyakinan.

Heeseung tersenyum bersyukur atas dukungan Yeon Ji. "Terima kasih, Yeon Ji. Aku akan merindukanmu dan semua kenangan indah di kota kecil ini."

✦ Tahun 2020 ✿

Setelah sepuluh tahun menjalani perjalanan pendidikannya yang penuh perjuangan, Heeseung akhirnya mendapat libur panjang dari kampusnya. Namun, liburan itu tidak berarti istirahat bagi Heeseung. Ia memiliki tugas besar yang menunggu, yaitu menyelesaikan skripsi dan mempersiapkan diri untuk kelulusannya.

Dengan beban yang berat namun penuh tekad, Heeseung kembali ke kota kecilnya dengan membawa tumpukan skripsi yang harus diselesaikan. Saat ia membuka pintu rumah yang selalu memberinya kenangan manis, aroma harum kenangan masa kecilnya menyambutnya. Ia dengan cepat meletakkan koper dan ranselnya, mempersiapkan diri untuk tugas-tugas yang menantinya.

Namun, sebelum memulai tugasnya, Heeseung merasa ada yang harus ia lakukan. Dengan langkah yang mantap, ia berjalan ke toko bunga yang pernah menjadi saksi dari momen-momen bahagia bersama sahabatnya, Yeon Ji, tiga belas tahun yang lalu.

Saat ia memasuki toko bunga itu, aroma bunga yang khas menguar di udara, membangkitkan kenangan yang terpendam. Heeseung melihat sekeliling toko dengan hati yang berdebar-debar, mencari bunga yang akan menjadi teman setianya dalam perjalanan selama sepuluh tahun ini.

Akhirnya, pandangannya terpaku pada sebuah gerbera yang cantik, sama seperti yang pernah ia beli bersama Yeon Ji dulu. Dengan senyum kecil di bibirnya, Heeseung mengambil bunga itu dan membayarnya dengan penuh rasa haru.

✦ ~ ✿

Dengan hati yang berat dan penuh harapan, Heeseung segera menuju pantai, tempat di mana ia dan Yeon Ji sering melepas perahu kertas ke dalam samudera mimpi mereka. Saat ia tiba di tepi pantai, angin laut membelai wajahnya, dan suara deburan ombak mengisi keheningan.

Duduk di pasir pantai yang lembut, Heeseung menatap lautan yang luas, menunggu dengan harap-harap cemas kehadiran Yeon Ji. Namun, naas, tidak satupun bayangan Yeon Ji yang muncul di cakrawala.

Rasa rindu dan kekosongan mulai merayap dalam diri Heeseung. Meskipun ia sendiri, ia merasakan kehadiran Yeon Ji dalam setiap serpihan kenangan yang terukir di pantai ini. Kenangan tentang persahabatan mereka yang kuat, tawa mereka yang riang, dan mimpi-mimpi mereka yang selalu terbang tinggi di atas samudera kehidupan.

Namun, meskipun kehadiran fisik Yeon Ji tak terlihat, Heeseung merasakan bahwa sahabatnya tetap ada di sana, dalam hati dan pikirannya. Dengan setiap hembusan angin laut yang menggenggam rambutnya dan setiap deburan ombak yang menyentuh kakinya, ia merasakan kehadiran Yeon Ji, memberinya kekuatan untuk terus maju dalam hidupnya.

Dengan hati yang penuh haru dan terima kasih, Heeseung mendekatkan diri lebih dekat ke tepi lautan yang luas, merasakan sentuhan lembut air laut yang membasahi celana panjangnya. Dengan langkah yang mantap, ia mengayunkan bunga gerbera yang ia beli sebagai simbol persahabatan mereka ke dalam lautan bebas.

Dengan perlahan, bunga itu mulai terbawa oleh arus, menjauh dari pantai dan menghilang di kejauhan. Heeseung memandangnya dengan tatapan penuh makna, merenung tentang semua kenangan indah yang mereka bagi bersama.

Di dalam hatinya, ia tahu bahwa meskipun bunga itu telah pergi, namun persahabatan mereka akan tetap abadi, seperti lautan yang tak pernah berhenti mengalir. Meskipun jarak memisahkan mereka, namun ikatan batin yang mereka miliki akan selalu terjaga, seperti arus yang tak terputus di dalam lautan.

Dengan senyum yang hangat di bibirnya, Heeseung berbalik dan kembali ke daratan, membawa dalam dirinya kekuatan dan harapan untuk masa depan yang cerah. Meskipun ia telah melepaskan bunga ke lautan, namun kenangan dan hubungan persahabatan mereka akan tetap hidup dalam hati dan pikirannya, selamanya.

✦ ~ ✿

Dengan hati yang berdebar-debar, Heeseung mengetuk pintu rumah nenek Yeon Ji keesokan harinya. Saat pintu terbuka, senyum hangat sang nenek menyambut kedatangannya. Heeseung tidak bisa menahan diri dan dengan cepat memeluk nenek Yeon Ji dengan erat.

Setelah memeluk sang nenek, Heeseung dipersilakan masuk ke dalam rumah. Saat ia duduk di sofa yang familiar baginya, ia merasa sepenuhnya terkenang dengan masa lalu. Meskipun ada kesedihan yang menyelimuti hatinya, namun juga ada kehangatan yang ia rasakan di tempat ini, tempat yang telah menjadi saksi bisu dari begitu banyak kenangan manis bersama Yeon Ji.

Mata Heeseung tertuju pada tempat berdoa yang terhampar di salah satu dinding, di mana terpampang gambar sang sahabat, Yeon Ji. Dengan langkah lembut, ia mendekati gambar itu, menatap wajah tulus Yeon Ji yang terpampang di dalamnya.

Saat ia menatap gambar itu, sebuah senyum tak terelakkan terukir di bibirnya. Meskipun Yeon Ji mungkin tidak berada di sini secara fisik, namun kehadiran dan kenangan akan persahabatan mereka tetap hidup dalam hati Heeseung. Dan di tempat ini, di dekat gambar sahabatnya itu, ia merasakan kehangatan dan kehadiran Yeon Ji, memberinya kekuatan untuk melanjutkan hidupnya dengan penuh semangat dan harapan.

Dalam doanya, ia mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya, dan berjanji untuk selalu mengingat dan menghargai semua kenangan yang telah mereka bagi bersama. Sebagai tanda penghormatan dan cinta pada persahabatan mereka, ia tersenyum, membiarkan air mata kebahagiaan dan nostalgia membasahi pipinya.

Saat Heeseung duduk di dekat tempat berdoa, nenek Yeon Ji menyaksikannya dengan tatapan penuh kehangatan. Diam-diam, ia mendekati Heeseung dengan langkah yang lembut, membawa harapan dan semangat untuk menghiburnya dalam momen-momen yang sulit.

Dengan suara lembut dan penuh kebaikan, nenek Yeon Ji menyapanya, "Heeseung, aku tahu bahwa kamu sedang melewati masa-masa yang sulit. Namun, ingatlah bahwa setiap cobaan yang kita hadapi adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Kita harus tetap tegar dan percaya bahwa di balik setiap tantangan, ada kekuatan dan pembelajaran yang berharga."

Heeseung menoleh ke arah nenek Yeon Ji dengan mata yang penuh dengan rasa terharu. Ia merasakan kehangatan dan kebijaksanaan dari kata-kata nenek itu, seolah-olah mereka adalah obat bagi hatinya yang sedang terluka.

"Terima kasih, nenek," ucap Heeseung dengan suara yang penuh dengan rasa terima kasih. "Kata-kata dan dukunganmu sungguh berarti bagiku. Aku akan tetap tegar dan berusaha sebaik mungkin."

Nenek Yeon Ji tersenyum penuh kebanggaan dan kebahagiaan. "Kamu adalah anak yang kuat, Heeseung. Aku yakin bahwa kamu akan melewati semua ini dengan keberanian dan kemantapan hati. Dan ingatlah, selalu ada cahaya di ujung terowongan, jadi jangan pernah menyerah."

✦ ~ ✿

Saat pulang dari kediaman nenek Yeon ji. Dengan langkah yang terengah engah, Heeseung segera membuka pintu rumahnya dan masuk kedalam kamarnya. Ia segera mengambil kotak yang dahulu diberikan oleh Yeon ji, sebelum membuka kotak itu, sang nenek memberitahukan Heeseung untuk membaca surat itu terlebih dahulu baru membuka kotak itu.

Dengan hati yang penuh haru, Heeseung membaca surat itu berulang kali, meresapi setiap kata dan maknanya. Ia tahu bahwa ini adalah permintaan terakhir dari sahabatnya, dan ia bersumpah untuk memenuhinya dengan sepenuh hati.

Heeseung membuka kotak dengan hati yang penuh haru, merasakan getaran emosional saat ia melihat isinya. Di dalamnya, terdapat beberapa foto mereka bersama, merekam momen-momen bahagia dan kenangan indah yang mereka bagi bersama.

Di antara foto-foto itu, terdapat juga kelopak bunga favorit Heeseung, yang menambah kehangatan dan keindahan di dalam kotak itu. Kelopak bunga itu, dengan keharumannya, mengingatkannya pada kebahagiaan dan keceriaan yang mereka rasakan bersama di masa lalu.

Namun, yang paling membuat hati Heeseung tersentuh adalah secarik kertas kecil yang bertuliskan kata-kata "semangat!" di atasnya. Kata sederhana itu, meskipun singkat, memiliki makna yang sangat dalam baginya. Itu adalah pesan dukungan dari sahabatnya, Yeon Ji, yang memberinya semangat untuk terus maju dalam setiap langkah hidupnya.

Dengan hati yang dipenuhi dengan rasa terima kasih dan haru, Heeseung menyimpan semua isinya kembali ke dalam kotak, memeluknya erat di dadanya. Kotak itu bukan hanya berisi barang-barang fisik, tetapi juga memuat kenangan, harapan, dan semangat yang tak terhapuskan dari persahabatan mereka.

END

-qfs

The Other Side


''Jungwon,'' seru seseorang yang bername tag Jay. ''Ya?'' seseorang yang baru saja disebut Jungwon itu menoleh, Jay mendekati Jungwon dan ia langsung duduk disamping Jungwon dan berseru, ''Kamu tau tidak? kasus yang baru saja booming disekolah?'' seru Jay. Jungwon nampak tak terlalu mempedulikannya dan ia tetap sibuk dengan lukisan yang ia gambar di kanvas putih itu.

Jay merasa sedikit frustrasi melihat ketidakpedulian Jungwon terhadap topik yang dia anggap penting. Namun, dia memutuskan untuk terus mencoba. "Kasus itu sangat aneh, Jungwon. Beberapa murid menghilang tanpa jejak. Polisi sedang menyelidiki, tetapi sepertinya tidak ada petunjuk yang jelas," Jay menjelaskan, mencoba menarik perhatian temannya.

Jungwon mengangkat sedikit alisnya, menunjukkan sedikit minat pada pembicaraan Jay. "Apa yang kamu pikirkan tentang ini?" tanya Jay, mencoba memicu diskusi. "Sepertinya hanya drama biasa," Jungwon menjawab sambil tetap fokus pada lukisannya. "Mungkin ada alasan di balik semua ini, atau mungkin tidak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Jay merasa kebingungan. Bagaimana Jungwon bisa begitu santai menghadapi situasi yang begitu serius? "Tapi, Jungwon, ini bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Apa yang jika kita atau orang lain berada dalam bahaya?" Jay mencoba menjelaskan kekhawatirannya.

Jungwon akhirnya menatap Jay dengan tatapan tajam yang tidak biasa. "Apakah kamu benar-benar percaya pada segala hal yang kamu dengar, Jay?" tanyanya dengan suara yang tenang namun tajam. Jay terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan itu. "Apa maksudmu?" tanyanya akhirnya.

Jungwon tersenyum tipis. "Mungkin, bukankah lebih baik untuk tidak selalu mempercayai apa yang terlihat di permukaan? Terkadang, kebenaran sebenarnya tersembunyi di balik tirai yang paling gelap."

Kata-kata Jungwon membuat Jay merasa tersentak. Apa yang dimaksud Jungwon? Apakah dia menyiratkan sesuatu yang lebih dalam tentang kasus itu? Jay merasa semakin penasaran dengan sahabatnya yang misterius itu. Namun, sebelum Jay bisa menanyakan lebih lanjut, bel masuk sekolah berbunyi, menandakan akhir dari jeda mereka. Jay meninggalkan Jungwon dengan pertanyaan yang menggelitik pikirannya, bertekad untuk mengungkap lebih banyak rahasia di balik misteri yang sedang terjadi di sekolah mereka.

૮⍝• ᴥ •⍝ა

Jungwon memasuki kelas dengan napas terengah-engah, wajahnya agak pucat. Dia menyusuri lorong-lorong sekolah dengan terburu-buru, membawa barang-barang yang terkait dengan kanvas dan lukisannya. "Maafkan aku, Pak," Jungwon menjawab, mencoba menenangkan dirinya saat dia berdiri di depan kelas. "Ada beberapa masalah di studio seni yang harus saya selesaikan."

Jungwon memasuki kelas dengan napas terengah-engah, wajahnya agak pucat. Dia menyusuri lorong-lorong sekolah dengan terburu-buru, membawa barang-barang yang terkait dengan kanvas dan lukisannya. "Maafkan aku, Pak," Jungwon menjawab, mencoba menenangkan dirinya saat dia berdiri di depan kelas. "Ada beberapa masalah di studio seni yang harus saya selesaikan."

Guru mengangguk, namun ekspresinya masih keras. "Ini bukanlah alasan yang baik untuk terlambat, Jungwon. Anda harus memprioritaskan pendidikan Anda. Segera duduk." Jungwon mengangguk, menempatkan barang-barangnya di meja dengan cermat sebelum duduk di kursi kosong di sudut kelas. Dia merasakan sorotan tatapan dari teman-temannya, tetapi dia mencoba untuk tidak terlalu memperhatikannya.

Saat bel pelajaran dimulai, Jungwon mencoba fokus pada pelajaran. Namun, pikirannya terus melayang ke studio seni tempat dia baru saja meninggalkan kanvasnya. Ada sesuatu yang salah dengan lukisannya, dan dia harus memperbaikinya sebelum waktu yang ditentukan. Setelah kelas selesai, Jungwon segera meninggalkan ruangan, menuju studio seni. Dia merasa semakin gelisah saat dia mendekati tempat itu, mencoba mempercepat langkahnya. Begitu tiba, dia segera memeriksa kanvasnya.

Namun, apa yang dia temukan membuatnya terkejut. Lukisannya telah diubah. Di tengah-tengah kanvas, ada gambar yang aneh dan mengerikan yang tidak pernah dia buat. Tubuhnya terasa bergetar, dan dia tahu dia harus melaporkan ini kepada pihak berwenang.
Dengan hati yang berdebar, Jungwon mencabut telepon genggamnya dan menghubungi Jay. "Ada sesuatu yang buruk terjadi," katanya ketika Jay mengangkat panggilannya.

૮⍝• ᴥ •⍝ა

Jungwon dan Jay sepakat untuk bertemu di atap gedung sekolah, tempat yang sepi dan terlindung dari mata orang lain. Dari sana, mereka dapat berbicara tanpa gangguan dan merasa lebih aman untuk membicarakan masalah yang mereka hadapi. Saat mereka sampai di atap, angin berdesir pelan dan langit senja memberikan latar belakang yang dramatis bagi percakapan mereka. Jay melihat ekspresi tegang di wajah Jungwon dan merasa kegelisahan yang sama.

"Ada apa, Jungwon? Apa yang kamu maksud dengan sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Jay dengan suara cemas.
Jungwon menggelengkan kepala, mata yang penuh kekhawatiran. "Lukisankudi studio seni telah diubah. Ada gambar yang aneh dan menakutkan di atasnya. Aku tidak pernah membuat itu, Jay. Aku tidak tahu apa yang terjadi."

Jay menatap Jungwon dengan serius, mencoba memahami keadaan yang sedang dihadapi temannya. "Ini sungguh aneh. Kita harus segera memberi tahu pihak berwenang. Mungkin ini terkait dengan kasus hilangnya murid-murid sekolah."

Jungwon mengangguk setuju, tetapi wajahnya terlihat tegang. "Aku takut, Jay. Aku takut akan apa yang mungkin terjadi. Dan aku juga takut pada apa yang mungkin aku temukan."

Jay meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Jungwon, mencoba memberinya sedikit kekuatan. "Kamu tidak sendirian, Jungwon. Kita akan menghadapinya bersama. Yang penting sekarang adalah mengungkap kebenaran dan melindungi diri kita sendiri."

Setelah berdiskusi sebentar di atap gedung sekolah, Jungwon dan Jay memutuskan untuk pergi ke ruang guru untuk melaporkan kejadian yang mereka temui di studio seni.

૮⍝• ᴥ •⍝ა

Mereka masuk ke ruang guru dengan hati-hati, menemukan guru yang bersangkutan sedang duduk di meja kerjanya, sibuk dengan tumpukan berkas dan dokumen. Dengan wajah serius, mereka mendekati meja guru itu. "Pak, kami punya sesuatu yang ingin kami laporkan," ujar Jay dengan nada tegas.

Guru mengangkat pandangannya dari kertas-kertas yang tersebar di meja dan menyambut mereka dengan sikap serius. "Ada apa, anak-anak? Apakah ada masalah?" tanya guru tersebut.

Jungwon menjelaskan dengan hati-hati apa yang terjadi di studio seni, bagaimana lukisannya telah diubah tanpa seizinnya, dan bagaimana hal tersebut membuatnya merasa khawatir akan keselamatan dirinya sendiri dan teman-temannya.

Guru mendengarkan dengan penuh perhatian, ekspresinya menjadi semakin serius seiring dengan penjelasan mereka. "Ini sangat serius," ujar guru tersebut setelah mereka selesai berbicara. "Kita harus segera memberi tahu pihak berwenang tentang ini. Tidak boleh ada lagi kejadian seperti ini di sekolah kita."

Setelah memastikan bahwa laporan mereka tercatat dengan baik, Jungwon dan Jay merasa sedikit lega. Mereka tahu bahwa mereka telah mengambil langkah yang tepat dengan melaporkan kejadian tersebut kepada guru. Namun, di balik rasa lega itu, masih ada ketegangan dan ketidakpastian tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

૮⍝• ᴥ •⍝ა

Setelah meninggalkan ruang guru, Jungwon dan Jay merasa tegang dan penuh ketidakpastian. Mereka berjalan melalui lorong-lorong sekolah dengan pikiran yang dipenuhi oleh pertanyaan dan kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Namun, di antara semua kekhawatiran itu, mereka merasa lega karena telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.

Namun, sebelum mereka dapat merasa terlalu aman, mereka tiba-tiba dihadang oleh seseorang di depan pintu keluar. Seorang siswa lain, yang terlihat gelap dan misterius, menghalangi mereka dengan tatapan tajam.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya siswa tersebut dengan suara yang dingin. "Kalian telah mengganggu sesuatu yang seharusnya kalian biarkan terkubur."

Jungwon dan Jay saling pandang, merasa tidak nyaman dengan pertemuan yang tiba-tiba ini. Mereka tidak yakin bagaimana cara menanggapi.

૮⍝• ᴥ •⍝ა

Setelah Jungwon mengantarkan Jay pulang ke rumahnya, dia kembali ke sekolah untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah siswa-siswa yang menghilang. Langit telah mulai gelap, dan suasana sekolah terasa semakin sunyi saat dia melangkah masuk.

Dia menuju ke lorong, tempat yang biasanya menjadi pusat lalu lalang di antara siswa. Namun, ketika dia tiba di sana, perpustakaan terlihat kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali suara angin yang melolong lewat jendela terbuka.

Jungwon berdiri tegak di tengah lorong sekolah yang sepi, menerangi koridor dengan lampu redup yang menyala di langit-langit. Di tangannya, dia memegang bukti yang baru saja ditemukannya di perpustakaan: sebuah tanda yang aneh terukir di sampul buku.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar di belakangnya. Dia berbalik dan melihat seorang siswa, seseorang yang juga termasuk dalam daftar siswa yang menghilang, menghampirinya dengan langkah-langkah ragu.

"Jungwon," kata siswa itu dengan suara gemetar, "aku tahu kau sedang menyelidiki kasus ini. Aku perlu memberitahumu sesuatu." Jungwon mengangguk, memperhatikan ekspresi cemas di wajah siswa itu. "Apa yang ingin kamu katakan?"

Siswa itu menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara gemetar, "Aku percaya ada seseorang di sekolah ini yang tidak seperti yang terlihat. Seseorang yang bermuka dua."

Jungwon menarik napas dalam-dalam, merenungkan kata-kata siswa itu. "Apa yang kamu maksud dengan 'bermuka dua'?"

Siswa itu menatap Jungwon dengan mata yang penuh kekhawatiran. "Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya, tapi aku merasa seperti dia ada di mana-mana. Dia bersembunyi di balik topengnya yang licik. Dan aku takut..."

Sebelum siswa itu bisa melanjutkan, teriakan tiba-tiba terdengar dari ujung koridor. Jungwon dan siswa itu melihat ke arah suara itu, hanya untuk melihat seseorang berlari kearahnya.

"Dia!" seru siswa itu dengan suara lantang, menunjuk ke arah Jungwon. "Itu! Jangan percaya padanya, dia berbahaya"



-qfs